Suatu Ketika di Surya Kencana

Menuju Puncak Kenikmatan Nan Barokah Di Negeri Pasundan

Terjemahan : "Logo Psikologi" P A L A P S I "Logo Psikologi"

(ki-ka) : Wahyu, Anggra, Hanif, Diyan, Moni, Isti, Afiq, Yandi, Gerry
Surya Kencana, Gunung Gede...
Kenangan manis..

"Bahagia Itu Sederhana"

"Bahagia Itu Sederhana"
Sebuah tulisan...

Bahagia itu sederhana, begitulah yang selalu dia katakan. Quote yang sama dalam waktu yang berbeda, event yang berbeda, orang-orang yang berbeda. Sangat berkesan. Hingga ia memasang kata-kata itu sebagai penampang di blognya. "Bahagia Itu Sederhana".

Bagiku quote-quote ataupun kata-kata bijak "hanya" spesial saat pertama kali mendengarnya, begitu pula quote yang sangat dia kagumi. Hingga pada satu waktu. Saat itu, siang yang terik menghinggapi langit Jogja. Aku menyempatkan waktu untuk pulang meski ada kuliah lagi sore nantinya. Dengan Revo hitam aku pun melaju ke arah utara, arah rumahku. Sampailah aku di perempatan Condong Catur, lampu merah.

Aah, lampu baru saja berubah menjadi merah. Menunggu lebih lama. Aku pun memutar kunci motorku ke kiri, mati, kemudian menyilangkan kedua tanganku sambil melengkukkan punggung. Di kiri jalan, trotoar, ada sepasang lelaki dan juga seekor monyet yang beratraksi. Topeng monyet. Selalu ada di kala terang, berharap sesuap nasi dari orang-orang yang lalu lalang. Seperti biasa, aku pun hanya memandang. Tak ada niat untuk merogoh saku, memberi uang.

Pandanganku pun hinggap pada dua orang paruh baya yang sedang duduk di atas sepeda motor tua. Pasangan suami-istri. Keduanya memperhatikan pertunjukkan topeng monyet dengan seksama. Di tengah kerut-kerut yang terpampang di bawah terik matahari, seulas senyum tersungging dari bibir mereka. Awalnya. Hingga pada satu waktu keduanya tertawa, lepas, meski hanyut dalam bising kendaraan yang ramai di siang hari.

Aku pun tersenyum. Bukan karena atraksi monyet itu. Hanya saja tak terpikirkan bahwa sesuatu yang telah biasa aku lihat ternyata dapat membuat orang lain bahagia. Aku tersenyum karena mereka tersenyum. Bahagia itu menular. Bahagia itu sederhana. Bahagia itu sederhana. Ya, sesederhana itu. Seperti memelankan laju motorku ketika dia dengan asyiknya memandangi jalan-jalan yang belum pernah ia lalui. Sesederhana berlindung dari hujan deras yang melanda dengan satu mantol yang sama. Sesederhana terlintasnya kenangan tentang dia ketika tersiksa di belantara.

Dan kali ini, tanpa seijin dia aku pun mengutip, "Bahagia Itu Sederhana".

Penyesalan yang Selalu Terulang

Penyesalan yang Selalu Terulang
Dan disinilah aku...menapaki hutan, lagi.
Merbabu, lagi. Gunung yang pernah ku naiki beberapa tahun lalu, namun tidak sampai ke puncak karena satu dan lain hal. Puncak Utang, sebutku. Naik gunung memang tidak melulu karena puncak. Tetapi naik gunung tanpa muncak itu kurang lengkap. Yah bagi aku pribadi, target sejati saat pendakian adalah pulang ke rumah bertemu keluarga. Ya, pergi untuk kembali.

Puncak. Perjalanan menuju puncak selalu melelahkan. Selalu. Seingatku, tidak pernah aku tidak menyesal ketika sedang melakukan pendakian. Ngapain sih kok aku mendaki? Kenapa to aku mau capek-capek gini? Banyak pertanyaan memenuhi benak dan kalbu ketika kepala menunduk, mata memandangi kaki yang melangkah berat perlahan selangkah demi selangkah. Miris. Orang yang hanya ingin enaknya aja kayak aku, sekarang malah menguras tenaga untuk hal yang melelahkan.

Heran. Aku sangat heran dengan orang-orang yang memiliki hobi naik gunung. Seringkali ketika ada acara training ataupun diskusi grup kemudian ada pertanyaan mengenai hobi, pasti sekurang-kurangnya ada satu orang yang hobi naik gunung. Entah mungkin memang passion ataupun karena individual differences, namun aku yakin ga akan pernah menyebut "Naik Gunung" sebagai hobi. Capek. Menguras tenaga. Penuh penyesalan.

Mestinya saat ini aku bisa berbaring di atas kasur empuk dan nyaman, kemudian menyantap minuman berasa yang menyegarkan badan dan pikiranku. Berteduh di dalam rumah yang sejuk dan menentramkan. Banyak hal yang bisa ku nikmati kalo aku engga sedang berada di sini. Berada di tempat yang terik di mana hanya ada air putih tawar untuk mengobati dahaga yang tak pernah hilang. Berada di tempat yang mengharuskanku berjalan hingga entah kapan dengan beban yang tak jauh berbeda dengan kulkas mini. Pikiran rutin saat naik gunung.

Bagiku, naik gunung dan mendaki gunung adalah dua hal yang sangat berbeda. Mendaki adalah ketika naik kemudian turun gunung. Hanya ada lelah, penyesalan, dan penyesalan ketika naik gunung. Melangkahkan kaki yang berat di trek menanjak dengan beban yang menguras tenaga agaknya tak lazim jika dijadikan sebuah hobi. Suatu saat nanti ketika ada yang menanyakan hobiku, tentu tanpa banyak berpikir akan kujawab : Turun Gunung. Meskipun begitu, aku tak yakin bisa berhenti mendaki gunung saat ini. Mungkin semester depan. Yah nampaknya penyesalan-penyesalan itu masih akan terulang hingga beberapa minggu ke depan.