Tampilkan postingan dengan label My Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Journey. Tampilkan semua postingan

Padusan Merapi (15-16 Juli 2012) 3 : Tektok, Tiktok

Posting pertama saya di tahun yang baru, berharap mendapatkan pengalaman bertualang lebih sering lagi dari tahun sebelumnya. Happy new year buat kamu dan semoga kesuksesan serta kelancaran dalam setiap aspek hidup selalu mendampingimu. Sejujurnya tulisan ini sudah dirintis sejak Desember 2015, namun berbagai hal terjadi sehingga terbengkalai (lagi) hingga saat ini. Selamat membaca.

* * * * *

Pendakian dimulai. Kami sadar waktu kami tak banyak. Merapi memang gunung yang memungkinkan untuk didaki "tektok", maksudnya mendaki kemudian turun di hari yang sama. Ini pendakian tektok yang tak direncanakan. Kami harus naik dan turun dalam kurun waktu tertentu, lebih cepat sampai bawah lebih baik mengingat cuaca Merapi yang tak menentu dan tak pernah tentu.

Tim melaju dengan cepat. Bahkan sebelum menyentuh pos 1, kami terbagi menjadi dua. Kanji, Gakros, dan saya ada di belakang. Bisa jadi karena isi tas kami yang terlampau penuh, atau juga teman-teman di depan yang berstamina "kewan". Sepertinya alasan pertama hanya berlaku bagi saya saja karena sebutan "kewan" sangat tepat untuk mendeskripsikan ketangguhan mereka dalam kegiatan pendakian sebelum ini.

"Gaak! Gaak!!" suara Toyo sayupsayup memanggil Gakros sebelum kami mencapai pos. Arah suaranya dari samping kiri, tapi tak tampak pergerakan mereka.
"Ngopo? Nengdi we?" balas Kanji cepat, sadar bahwa mereka mengambil jalur yang tidak umum.
"Iki arahe ngendi ya?" suara itu terdengar kembali, kini lebih dekat.
"Tutno suaraku wae!" Gakros yang enggan menyusul tim yang tersesat kemudian mengambil langkah naik, menggunakan jalan yang benar.

"Ngopo Gak?" tak disangka-sangka, muncul satu sosok di balik batu besar yang akan kami lewati. Samcong.
"Lah kok kowe neng kene e Cong?" ujar Kanji, ada sedikit nada terkejut di dalamnya.
"Mau aku ditinggal og, telo. Terus aku asal munggah wae."
"Woi, nengdi do an kih?!"
Srek, srek, srek. Tiga pasang langkah kaki pun mendekati kami. "Kene, Gak," jawab Kombir singkat.
"Kok iso tekan kono e?"
"Ha Toyo ki sing milih dalan ra cetha tenan og," umpat Ibeng.
"Lha ketoke dalane mung kuwi kok."
"Wes, wes gek ayo wae. Selak awan," saya pun angkat suara sembari mengumpulkan tenaga dan nafas.

Pendakian Merapi memang tidak membutuhkan waktu banyak. Rata-rata 2-4 jam, pendaki sudah bisa mencapai Pasar Bubrah setelah melalui jalan menanjak dan berpasir serta berdebu akibat sisa abu vulkanik.

"Jalur Kartini ki Gak?" tanya Kanji.
"Ho o."
"Do sipikan ae dab, aku tak leren. Ra kuat aku," rintih saya di tengah medan super nanjak dengan bebatuan vulkanik yang berfungsi sebagai pijakan.
"Halah sithik meneh iki nanjake mungan," jawab Toyo.
"Iyo, dhisikan ae. Kesel tenan dab," ucap saya dengan gaya rukuk, demi menarik oksigen lebih banyak ke dalam tubuh.
"Yawes leren dhisik wae," Samcong pun iba melihat wajahku yang tak karuan. Merah legam, bercucuran keringat, serta nafas tak beraturan.
"Ngemil sik po?" sahut Ibeng seraya meraih tasnya.
"Ora sah, mlaku wae yo. Ning tak alon-alon ya."

Tanjakan berbatu telah sukses kami lewati hingga kami menemukan jalur landai sebelum Pasar Bubrah. Saya masih ingat betul, spot ini adalah titik penyesalan saya beberapa tahun lalu ketika mendaki Merapi untuk pertama kalinya. Saya menyerah di titik itu karena kelelahan, akhirnya saya dan seorang rekan mendirikan tenda di situ sedangkan yang lain lanjut summit attack. Kali ini  pun saya juga tidak berkesempatan muncak. Pahit.

Anggota tim nggeblas menuju Pasar Bubrah, karena memang areanya sudah dekat. Tinggal melewati satu punggungan saja. Tinggalah saya di belakang menapak perlahan ditemani Kanji. Meski jalur tidak semenanjak tadi, tetap saja fisik yang lemah ini tertatih-tatih. Alhamdulillah saya tidak terlalu banyak membuang waktu tim. Saya pun sampai ke monumen in memoriam. Pasar Bubrah telah terlihat.

"Ayo Pak, wes tekan," ujar Gakros menyemangati. Saya pun mengangguk saja.

Toyo langsung berlari ke arah area landai dan lapang tersebut, diikuti Kombir, dan Samcong. Kami berempat berjalan santai saja, menghemat tenaga. Kisaran pukul 11.30 kami sampai di Pasar Bubrah. Kami langsung menata matras untuk duduk, menyiapkan peralatan masak dan bahan-bahan masakan, serta mengeluarkan cemilan. Kombir dengan sigap menggelar ponco, yang kemudian ia gunakan untuk berbaring. Begitupun Toyo, ia mengeluarkan matras dari karier Gakros demi mendapatkan tempat tidur yang lebih nyaman di atas bebatuan.

"Yo, masak yo."
"Kokine ora kaya biasane wae pa?"
"Sopo?"
"Gakros karo Anggra kae."
"Yowes ngono wae."
Saya hanya bisa menghela nafas ketika mendengar percakapan itu, namun sudahlah toh saya juga senang masak-masak kalau sedang pendakian. Bahan masakan yang tersedia saat itu hanya Indomie, beras, telur, dan sedikit sayur mayur. Sembari kami menyiapkan makanan dan ngemil roti, beberapa anggota memutuskan untuk berfoto-foto di tempat yang dominan warna putih ini.

"Jane sithik meneh wes tekan lho iki. Gari munggah kono wae ta?" ujar Kombir.
"Bahaya Mbir, sesuk meneh wae. Wong Merapi ra nengdi-nengdi," balas Kanji.
"Yo rapopo kok Mbir munggah wae, wes tekan kene lho," sahut Ibeng memanas-manasi.
"Iyo munggaho Mbir, tapi tak tunggu kene wae ya. Aku wes tau kok," Gakros tak mau kalah mengompori.
Sadar dipanas-panasi, Kombir pun mengurungkan niatnya.
"Ah aku tekan kene wae wes seneng kok," ucap Toyo.


"Sholat dhisik po?"
"Ayo wae sih, mie ne wes rampung kok. Gari nunggu endhog wae," jawab saya.
Kemudian Gakros mengambil alih tugas perkokian dan mengeluarkan kemampuannya mengolah telur.

Hening. Sunyi. Tak ada sepatah kata pun yang terucap, tapi ratusan doa kami panjatkan. Demi diri sendiri, demi masa depan, demi keselamatan kami dalam pendakian.

Gakros shalat setelah kami usai dan menggunakan sarung yang dibawa Samcong. Kemudian kami pun menyantap makan siang yang kalau boleh jujur, terasa aneh di lidah dan ada sensasi berbeda akibat eksperimen Gakros ketika kami tinggal beribadah tadi. Meskipun sederhana dan rasanya tidak familiar, tetap saja terasa lezat karena dibumbui dengan kebersamaan dan cerita pengalaman masing-masing di dunia kuliah. Tidak lupa kami mengambil foto tim pendakian kali ini.

"Ayo siap-siap mudhun."
"Mager e, dab. Tak turu-turu sik," jawab Kombir.
"Welha selak kesoren mengko tekan ngisor."
"Mbok santai wae, mumpung wes tekan kene," tambah Toyo.
30 menit kemudian.
"Yo mudhun yo, gek cepak-cepak."
"Sesuk aku bakalane mbalik rene njuk menggapai puncakmu, kok Merapi. Tunggu aku."

Jam 3an kami memutuskan untuk turun agar sampai basecamp sebelum hari gelap. Sudah cukup lama kami bersantai-santai dan bercengkrama serta mengambil berbagai foto di Pasar Bubrah. Perjalanan kami mulai dengan pelan, enggan berpisah dengan pengalaman pendakian kali ini. Sampai di monumen in memoriam, kami melihat pemandangan indah di depan kami. Akhirnya prosesi foto-foto pun tak terelakkan.

"Ojo nganti kepisah lho ya, iki jalure beda karo sing mau." Kami berjalan turun menggunakan jalur alternatif, menghindari jalur biasa (Jalur Kartini) yang memiliki tanjakan terjal. Jauh lebih berdebu memang, tapi lebih landai dan yang penting bisa gaspol. Kami pun sampai di bangunan mirip pendopo sebelum Maghrib. Di sana kami bersantai, beradu hinaan dan meneguk air yang tersisa.

Kami sampai di New Selo jam 6 lebih. Hari sudah gelap, badan sudah lelah, namun kami bahagia. Rasa kecewa tak dapat mendaki kemarin terbayarkan, rasa rindu akan pendakian bersama sahabat pun terpuaskan.

Padusan Merapi (15-16 Juli 2012) 2 : Entah Kudu Seneng Apa Mangkel

Tulisan part 2 dan part 3 adalah lanjutan dari kisah pendakian di tahun 2012, yang ditulis kembali oleh penulis di tahun 2016. Selamat menikmati.

* * * * *

Mentari pagi mulai menggeliat naik ketika kami tersadar dari tidur nyaman kami. Udara dingin dan cuaca yang cerah pada 16 Juli 2012 seakan mendukung kami untuk mengeratkan sleeping bag kemudian kembali pada mimpi indah. Saya pun enggan beranjak, namun hati yang tak tenang karena tidak ada kepastian ijin pendakian membuat saya tak mampu tidur dengan tenang. Entah dengan yang lain. Sepertinya mereka nyaman-nyaman saja dengan tidurnya.
Merbabu

"He, kae pemandangane apik lho," ujar Kanji yang baru saja dari luar. Si Boss Ketua OSIS ini nampaknya memang tidak punya syaraf rasa dingin, sepagi itu ia telah jalan-jalan keluar hanya bermodalkan kaos dan celana training.

"Tenane, Nji?" balas dua orang pemburu foto profil pemandangan, Toyo dan Kombir. Sontak keduanya langsung keluar, tentu setelah memakai sweater dan kaos kaki. Samcong pun ikut mencari panorama.

"Pie, dab? Munggah ora penake?" sahut Gakros dari dalam sleeping bagnya.
"Manut. Munggah ndi emang?" balas saya tak bersemangat sembari njingkrung seperti kepompong.
Tak membalas, Gakros beranjak mencari basecamper untuk meminta masukan. Enggan bermalas-malasan, saya mencari peralatan masak dan mulai membuat minuman hangat.

"Ra wani ngeculke dab," Gakros menerangkan bahwa warga tidak berani memberi ijin kami untuk naik, "kene tak gawekke wae, kowe masak."
"Berarti Merbabu?" saya sungguh ragu untuk mendaki jalur yang saya tak pernah lalui tanpa persiapan matang.
"Manut cah-cah," jawabnya, meskipun sebenarnya itu bukan jawaban juga.

Teman-teman yang ada di luar nampaknya kembali masuk karena tahu ada minuman hangat yang telah tersaji. Tetapi tak lama, karena mereka keluar lagi dengan tampilan yang sudah dipermak untuk mendapatkan foto-foto bagus.Saya bergegas meracik bumbu untuk masakan. Nasi dan tempe adalah bahan sarapan kami, "Ah yang penting makan, masalah rasa belakangan," ucap saya pada diri sendiri.
Hunting foto

"Pie penake?" tanya Gakros pada tim.
"Merbabu wae mbangane ra pasti," kata Toyo tak sabar.
"Emang Merbabu mesti oleh?" balas Ibeng.
"Emang ana sing paham Merbabu, ojo nekat lho Beng," Kombir menimpali dengan nada khawatir.
"Ho o lho, ngko malah rasido seneng-seneng," Samcong pun mengamini.
Kami pun hening. Rencana untuk hepi-hepi berujung ketidakpastian. Mungkin diberi harapan palsu oleh perempuan jauh lebih pasti daripada nasib kami. "Ngene ae Gak, coba tok kontak kancamu meneh. Takok Merbabu kaya pie detile," Kanji pun angkat suara.
"Angger Gakros wani aku sih wani wae, karo madang ki," ujarku seraya mengoper jatah makanan.
Berunding

Agaknya keresahan kami sedikit terobati seiring karbohidrat dan protein mengaliri kebutuhan nutrisi. Ditambah lagi adanya pendaki lain yang hendak naik Merapi namun urung dan mengganti tujuan. "Yawes Merbabu wae. Yuk packing, cepak-cepak sik," tegas Gakros setelah bimbang sekian lama. Kami pun membagi tugas, Samcong dan saya cuci-cuci peralatan masak; Toyo, Kombir, Ibeng, dan Gakros menyusun peralatan serta menyiapkan kendaraan; sedangkan Kanji foto-foto (engga ada yang berani memberi perintah pada bos yang satu ini).
Mengisi perut, mengurangi keresahan
Sungguh. Satu pembelajaran penting yang saya dapat ketika di sini adalah, memasaklah dengan minyak atau margarin kalau pakai nesting. Jika tidak, sisa-sisa nasi banyak yang mengeras di pinggir-pinggirnya hingga jadi intip. Mau digosok-gosok seperti apa, tidak mau lepas jua dari nesting. Merk sabun cuci apapun agaknya kalah ampuh. Hanya kesabaran yang mampu menaklukannya.

"Wes ah, Nggra. Mangkel aku. Iki liyane tak angkut mlebu ya," ujar Samcong, jengah dengan cobaan hidup yang satu ini. Saya tak patah arang, tak sudi diperdaya oleh nasi kering di pinggiran nesting.

"Yo, wes siap iki!" Toyo memanggil kami untuk berkumpul. Tas sudah rapi, alat sudah bersih, kendaraan sudah siap. Bahkan mungkin sudah dipanasi 15 menit lebih. Terlihat Pak Basecamper (engga tau siapa namanya) berjalan-jalan keluar dari rumah. Kami acuh saja, cukup menyapa kemudian melanjutkan siap-siap, bingung mau menanggapi bagaimana.

"Pie, sidane Merbabu?" tanya Kombir sembari metingkring di atas motor.
"Lha pie meneh," balas Ibeng.
"Yoweslah."

Tujuh orang lelaki yang dirundung keraguan, kini telah bersatu padu menemukan semangat baru untuk mendaki gunung tetangga, Merbabu. Berdasarkan prakiraan, kita akan sampai di puncak sore hari. Apabila memungkinkan kami kebut pulang malam ini juga, namun rencana cadangan kami adalah pulang esok hari ketika stamina telah prima. Karier kami angkut, barang-barang kami tenteng, helm sudah kami pasang rapi, tinggal nangkring di atas kendaraan dan melanjutkan perjalanan. Merbabu, kami akan mengunjungimu. Berilah kami sambutan terhangat.

"Pak, badhe pamit riyin nggih. Matur nuwun," ucap Gakros penuh unggah-ungguh berpamitan dengan pemilik rumah.
"Oh, nggih. Lha badhe teng pundi niki? Balik Jogja?"
"Mboten pak, badhe Merbabu. Lha tanggung pun tebih-tebih mriki."
Sang empunya rumah terdiam sejenak. Mengernyitkan dahi. "Nggih mpun mas nek badhe minggah Merapi monggo mawon, ning ngantos Pasar Bubrah mawon nggih."

Kami terhenyak. Terkaget-kaget. "Saestu niki. Menawi jenengan minggah malih jelas mboten aman wong niki pun siaga." Gakros memandang tim satu per satu seraya menunjukkan ekspresi "pie iki??". "Iya pak, terimakasih," sahut Kanji segera, sebelum beliau berubah pikiran.

"Ngopo?" tanya Kombir pada saya.
"Bapake ngolehke munggah Merapi, ning mung tekan Bubrah," jawab saya.
"Lha asem, ngopo ra ket mau," balas Ibeng.
Iya juga sih. Kami sudah terjaga sedari Subuh tadi dan beliau sebenarnya juga tahu. Ada banyak kesempatan baginya untuk memberi kami ijin. Ketika hunting foto, ketika membuat kopi, ketika memasak, ketika makan, ataupun ketika bersiap-siap. Kenapa ia harus memilih momen paling buruk? Momen di saat kami sudah teguh pendirian hendak berpindah ke lain hati. Momen ketika kami telah yakin tak mampu bersua dengan orang yang tadinya diharapkan. Momen di mana orang yang pernah kita sukai memberi sinyal cinta, namun waktunya sudah tak tepat lagi. Entah harus senang apakah dongkol.

Gakros pun berjalan kembali ke arah tim seraya bertanya, "Pie iki? Merbabu puncak apa Merapi Bubrah?"
"Merapi puncak ra oleh Gak?"
"Jo ngawur Nji, wong lagi siaga jare kok," sanggah Toyo. Ada benarnya juga, mengingat hujan abu semalam.
"Aku yo mung takon kok, Toy. Hmm, yawes manut ae. Merapi yo rapopo wong niate munggah kene kok."
"Aku ra masalah endi wae, sing penting seneng-seneng kok," Toyo menambahkan.
"Aku yo ho o."
"Melu-melu e Beng!"
"Ha kok nyenthe e Cong, lahloh ae."
"Yowes nek do ora ono sing keberatan, Merapi wae ngko sore mudhun. Pie?" ujar Gakros menyimpulkan.

Tentu saja tak ada yang keberatan. Orang-orang ini semua pernah mendaki dan memuncaki Merbabu, meskipun melalui jalur Wekas. Bagi mereka, pilihan Merbabu Selo ataupun Merapi Pasar Bubrah adalah perkara mudah. Bagi saya yang gagal memuncaki kedua gunung ini, mendaki Merapi namun hanya Pasar Bubrah merupakan pil pahit ibarat tradisi yang terulang. Ah, sudahlah. Toh niat saya bersenang-senang bersama teman-teman SMA setelah jemu berkutat dengan penatnya proses perkuliahan.
Mbuh pie carane, bongkar!
"Gek uwes, Nda!"
Entah dari mana istilah "Nda" ini, apakah nama orang ataukah dari film, saya juga lupa. Akan tetapi setahu saya, fungsinya menggantikan sebutan panggilan orang lain.
"Kosek, Nda. Ewangi nata motor ki lho."
Motor yang tadinya telah siaga dengan gagah di pekarangan, diparkir kembali. Tas yang sudah terpacking rapi, diudal-udal tanpa ampun. Barang-barang yang tak diperlukan, dikumpulkan jadi satu di pojok ruangan.

"Gak, tenda pie?"
"Guwang ae."
"Tenane?"
"Iyo, ngko Anggra ben dadi pawang udan, mbuh pie carane."

Saya terkekeh mendengar percakapan tersebut. Jujur saya khawatir juga. Tenda tak dibawa. Alat masak hanya seperlunya. Sleeping bag pun ditinggal. Muatan yang tadinya 3 karier dan 4 ransel dipress menjadi 2 karier dan 3 ransel plus satu tas selempang. Peralatan tim dan konsumsi kemudian dibagi rata ke karier Gakros dan saya serta ransel Ibeng, Samcong, dan Kanji. Saya mengingatkan untuk tetap membawa mantel atau ponco demi alasan safety. Saya pun diam-diam mengangkut sleeping bag dan peralatan rescue ke dalam karier. Setelah berbulan-bulan dibiasakan, rasanya tak tenang kalau mendaki tanpa prosedur safety yang sesuai.
Bersiap berangkat
"Kanji nggowo banyu, konsum karo peralatan kamera. Samcong nggowo banyu karo ponco. Ibeng nggowo banyu karo cemilan lengkap. Lah kowe nggowo opo e, Toy?" sindir Kombir yang melihat Toyo hanya membawa sebuah tas selempang yang entah apa isinya itu.
"Menengo su. Ngoco!!" balas Toyo. Yah Kombir memang tidak membawa apapun kecuali pakaian yang menempel dan sweater yang dikalungkan ke lehernya.

"Pemanasan sik Gak!" perintah Kanji ketika kami hendak berjalan naik. Tak berani membantah dan demi alasan keselamatan, kami pun pemanasan dan peregangan meski hanya sebentar. Maklum saja, niatan awal kami adalah camp di gunung dan bermalam di atas. Wajar saja kalau kami tak sabar mengejar impian yang sudah pasti tak mungkin terealisasi.

Usai pemanasan, kami berdoa memohon keselamatan dan kelancaran pendakian. Mendaki di tengah Merapi sedang siaga memang nekat, namun kami tetap berusaha menyadari batas-batas kemampuan kami tanpa menantang maut. "Yo munggahe alon wae, ojo ninggali. Ngko nek ana sing kesel gawa tas ben Toyo karo Kombir genteni."
"Wegah aku."
"Su e Toy!" balas Ibeng.

"Wah foto sik iki penake," ucap Kanji lirih, mungkin pengingat untuk dirinya sendiri. Akan tetapi setiap perkataannya bak komando, titah yang tak terpatahkan.
Akhirnya....

Padusan Merapi (15-16 Juli 2012) 1 : #PrayFor33

Percaya tidak percaya, ini adalah tulisan yang sebenarnya hendak saya publikasikan di tahun 2012. Akan tetapi berhubung ceritanya panjang, saya pun tak sempat melanjutkan tulisan. Akhir tahun 2016, saya mereview ulang blog dan kemudian menemukan tulisan ini. Belum tuntas, hanya setengah jadi saja. Oleh karena itu, tulisan ini akan saya lanjutkan namun dibagi menjadi 3 chapter. Kenapa harus 3 chapter? Tidak ada alasan spesifik, hanya soal kenyamanan saja. Saya yakin pembaca dan diri saya sendiri tidak terlalu suka tulisan yang terlalu panjang dan ngalor ngidul. Maka dari itu, ngalor ngidulnya tidak saya jadikan satu, melainkan tiga.

* * * * *

"Pak, ayo munggah merapi." sms dari Mada, yang biasanya dipanggil Gakroso, hinggap di nokia 101 ku. Lho kok dipanggil 'Pak' sih? Ya itu semacam cara manggil aja di angkatanku SMA, istilahnya kayak pake kata 'Bro' dan sebagainya gitu.

Hmmm, iya ya uda lama juga aku ga mendaki bareng anak-anak SMA. Sebenernya mereka sering ngadain pendakian gitu tapi karena kesibukanku sebagai akademisi di kampus yauda aku biasanya nitip salam aja. Wah tapi uda sebulan lebih ga nggerakin badan nih, gimana ya? Well, setelah 'Menuju Puncak Kenikmatan Nan Barokah Di Negeri Pasundan' (FUD), aku 'balas dendam' dengan males-malesan dan nyantai-nyantai. Tapi ajakan ini akhirnya kuiyakan mengingat aku belum pernah muncak Merapi.
Gakros
Singkat cerita, 14 Juli terkumpullah lima orang lainnya yaitu Yoga  (Kanji), Ridhwan (Ibeng), Tito (Toyo), Mahfudz (Samcong), dan Yodha (Kombir). Pendakian ini tadinya nyaris ga jadi, setelah Gakroso kesleo dirumahnya. Tapi karena lemahnya alibi dan engga ada saksi, alasan itu gabisa diterima yang lainnya.
Kanji

Pendakian Merapi ini semacam nostalgia, sebelumnya dua tahun lalu kami pernah berkunjung ke Merapi dengan personil yang berbeda. Saat itu adalah pendakian pertamaku, tapi karena keterbatasan stamina aku gagal muncak. Bagi Gakroso sendiri, pendakian Merapi ibarat padusan atau ritual membersihkan diri yang biasa dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dan aku nulis ini bukan sebagai catatan perjalanan yang ditujukan buat 'membantu' penikmat alam lainnya, tapi cuma untuk pengingat momen-momenku saat di Merapi aja.
Ibeng

15 Juli, kami janjian kumpul di Angkringan UII di Jl. Kahar Muzakir. Ibeng yang rumahnya gak jauh dari rumahku berniat datang tepat waktu, jam 10. Yah sekalian aja aku nebeng. Waktu SMA dulu, ada istilah Waktu Indonesia Bagian Namche, yang maksudnya anak Namche itu punya 'jam'nya sendiri yang akibatnya molor ga tanggung-tanggung. Aku dan Ibeng jelas datang paling awal karena tepat waktu, disusul Kanji jam 11.00, Gakroso dan Kombir yang aku gatau jam berapa mereka datang karena aku lagi belanja bekal, serta Toyo yang datang jam 14.00...hanya dengan pakaian, motor, dan tas slempang isi rokok.
Toyo
Setelah menyiapkan berbagai bekal dan nyewa peralatan, kami berangkat tepat setelah sholat Ashar. Perjalanan menuju Selo yang panjang dan berkelok-kelok seakan tak terasa karena dihibur dengan pemandangan indah yang disajiikan oleh Merapi dan alam di sekitarnya. Kami sempat mampir makan di warung pinggir jalan karena dorongan cairan lambung yang menggerus keyakinan kami untuk makan di basecamp Selo.
Samcong
Perjalanan pun berlanjut. Sebelum basecamp, trek menanjak lurus menghadang kami. Aku yang saat itu berboncengan dengan Gakros di atas motor Ibeng pun mulai was-was karena muncul tanda-tanda engga kuat. Benar saja, beberapa meter sebelum basecamp aku harus melompat dari motor karena tidak kuat menarik beban kita berdua. Haha. Kami pun sampai di basecamp sebelum Maghrib.
Kombir
Apes. Itulah yang dapat aku katakan. Saat itu warga sekitar melihat asap hitam mengepul dari arah Gunung Merapi dan mereka pun berkumpul di sepanjang jalan dekat basecamp untuk mengamati keadaan Merapi. Mereka belum yakin apakah itu awan panas atau apa. Parahnya di saat yang sama ada pendaki yang mengalami kecelakaan di atas sana. Rumornya adalah terjatuh di tempat yang kurang nyaman sehingga mengalami luka-luka. Tapi dia masih bisa jalan kok ,walaupun pelan. Tetap saja kejadian itu sudah cukup membuat suasana mencekam. Meskipun awan tadi dipastikan hasil dari guguran lava, para warga tidak ingin kami mengambil resiko untuk melanjutkan perjalanan. Walhasil, kami pun beristirahat di basecamp hingga waktu yang belum ditentukan.
Saya


Salah satu prosedur keamanan yang wajib kami lakukan sebelum pendakian adalah memberi kabar kepada rekan-rekan kami di basecamp atau di jogja. Meskipun kami tidak mengharap celaka, namun pencegahan selalu lebih baik bukan? Begitu pun saat itu, banyak rekan yang tahu bahwa kami melakukan pendakian ke Gunung Merapi. Ternyata di berbagai berita muncul kabar terkait kondisi Gunung Merapi yang menampakkan aktivitas dapur magmanya.

Kondisi kami saat itu membuat khawatir teman-teman di Jogja. Berhubung saat itu media sosial paling tenar adalah Twitter, sontak saja twit dengan hashtag #PrayFor33 bertebaran di timeline kami. Angka 33 yang menunjukkan angkatan sispala kami, meski tak semuanya anak pecinta alam, menjadi viral di berbagai angkatan.

Ada kakak kelas yang mencoba menghubungi kami via telepon namun gagal. Ada adik kelas yang mengontak basecamp Gunung Merapi namun tak dapat terhubung. Ada pula senior kami yang menyiagakan tim penyelamatan apabila skenario terburuk terjadi. Di saat bersamaan, kami, yang tak tahu kekhawatiran rekan-rekan di Jogja karena keterbatasan sinyal, sedang menikmati cemilan yang dibawa masing-masing dan asik bermain kartu remi.
Rekan-rekan di Jogja sedang panik
Kami yang sampai di basecamp kurang lebih pukul 18.00, telah menghabiskan 4 jam foto-foto di basecamp, ngemil, dan main kartu. Lama kelamaan bosan juga karena Samcong hampir selalu kalah, Toyo hampir selalu menang, dan Gakros hampir selalu tak kelihatan batang hidungnya, entah hilang ke mana. Dirundung kebosanan yang menjemukan, muncul wacana untuk mendaki Gunung Merbabu. Masalahnya tak ada satu pun dari kami yang berpengalaman via jalur Selo, bahkan basecampnya dimana saja kami tak tahu (bahkan itu adalah kali pertama saya tahu bahwa Merbabu bisa dicapai via Selo). Gakros pun mencoba menghubungi rekan-rekannya yang sebagian besar adalah juru kunci gunung ataupun pendaki veteran.

Tengah malam tiba, namun ijin untuk mendaki tak kunjung didapat. Kecewa, pasti. Akhirnya kami memutuskan untuk mendaki Gunung Merbabu keesokan hari meskipun tak ada yang tahu jalur. Sudahlah yang penting kita bersama, hambatan menghadang hadapi penuh kesabaran. Kami pun memutuskan untuk segera tidur.

KKN-PPM Gadjah Mada - Dandang Gula by Pak Podo

KKN-PPM Gadjah Mada - Dandang Gula by Pak Podo
Kang sinanggit sekar dandang gendis
Mung kinarya njumbuhake rasa
Rasa ing sanubarine
Riharas jroning kalbu
Manunggaling ati pakarti
Lathi pan jangkepira
Kang kinarya laku
Lakuning pakarti tama
Nora ngetang akehing budi utami
Pasrah maring kang kwasa

Wulan pasa tahunipun alip
Mangsa siji windune sangara
Kuruwelut nggih wukune
Sangalas papat pitu
Tanggal siji ing tahun jawi
Mahasiswa Gadjah Mada
Lumebet ing dusun
Dusun Puthon Girimulya
Cacah sapta kakung putri ingkang prapta
Nyawiji mring kawula

Kang sawiji putri Sala Vivi
Kang kapindo Wedar Purwakerta
Dene ingkang katelune
Ing Sukaharja Pramu
Kaping papat Adit lan Rani
Kekalih saking Yogya
Kalima puniku
Anggara Ngayogyakarta
Kang pungkasan Achda Jaten kang winarni
Sadaya mahasiswa

Pamintaku mring sira puniki
Wigatosna aywa ngantikemba
Mring sira kang disik dewe
Den bakuh ing pikukuh
Sregep srawung ja nganti lali
Asih maring sasama
Apan iku baku
Lamun benjang wus makarya
Ngati ati manah jujur sing taberi
Muga slamet slaminya

As You Walk On By, Will You Call My Name?

Hidup ini ibarat sebuah perjalanan. Begitulah kata banyak orang. Yap, perjalanan. Bisa jadi panjang ibarat berkunjung ke Argopuro via Baderan atau mungkin pendek seperti memuncaki Gunung Purba Nglanggeran, tiada yang tahu. Sebenarnya analogi tersebut engga selamanya pas juga sih, mengingat tujuan utama seorang petualang bukanlah mencapai puncak. Entah apapun "puncak" yang dimaksud itu, puncak gunung, akhir jeram, nge"top" tebing, atau apapun. Bukan "puncak" yang itu, tujuan utamanya adalah pulang. Pulang sampai ke rumah dengan selamat.

Perjalanan mencapai "puncak" itu pun tak ada yang tau waktu sesungguhnya. Ada yang mencapai "puncak" pendek namun membutuhkan waktu panjang, begitu pun sebaliknya. Dan terkadang setelah pulang pun ada perjalanan-perjalanan lain yang kita tak pernah tahu sebelumnya. Tak ada yang tahu bagaimana perjalanan itu sesungguhnya, mungkin berhenti di tengah jalan setelah ataupun sebelum mencapai "puncak".

Tak ada perjalanan yang dapat kita pahami kisahnya sebelum dilaksanakan. Kita hanya bisa merancang rencana berdasarkan berbagai gambaran yang ada. Persiapan dalam berbagai aspek pun tak jauh dari apa yang kita tahu sebelumnya. Tak ada yang tahu, tak ada yang pasti.

Perjalanan yang kita tempuh pun belum tentu perjalanan seorang diri. Pasti ada teman. Setidaknya ada rekan lain beda tim yang akan berjumpa dengan kita. Mungkin saja. Kemungkinan untuk keasyikan berinteraksi pun tidak tertutup. Kita nyaman dan bahagia dengan mereka. Tetapi sebuah perjalanan tetaplah perjalanan. Persimpangan jalan ataupun perbedaan "puncak" bisa memisahkan hubungan dinamika yang apik.

Hidup penuh dengan kemungkinan, begitu juga dengan perjalanan. Jika dalam perjalanan ini saya bertemu lagi denganmu apa yang akan terjadi? Tak ada yang tahu. Mungkin engkau telah bersama rekan lain, mungkin saya akan mengharapkanmu, mungkin kita ibarat orang tak kenal sama sekali, terlalu banyak kemungkinan.

Ketika pertemuan itu, seiring kaki kita melangkah semakin mendekat perlahan akankah engkau mau memanggil nama itu? Akankah kau melakukannya saat kita baru sebatas berpandangan? Ataukah ketika ketika jarak kita sepanjang lengan? Atau waktu wajah kita berpapasan? Atau mungkin kau tidak akan pernah memanggil, melewati diri ini sambil lalu tanpa menghiraukannya sedikit pun.

As you walk on by, will you call my name?
Tidak, saya tidak pernah tahu engkau akan memanggilnya atau tidak. 
As you walk on bywill you call my name?
Jika engkau panggil, pertemuan itu akan memiliki kisah yang bermakna dan mungkin berujung pada kebahagiaan.
As you walk on bywill you call my name?
Kalaupun tidak, saya harap kita tetap bahagia dalam jalan yang berbeda.


Gonjang-Ganjing Samudera : Kisahku, Batu Tenggelam

Gonjang-Ganjing Samudera : Kisahku, Batu Tenggelam
Buaian sinar matahari dahulu adalah tempatku, kini aku tinggal di gelapnya samudera malam.

Yah, akulah batu tenggelam. Sesosok makhluk yang gemar digunjingkan oleh para penghuni samudera. Mulai dari rakyat daratan, raja lautan, hingga menteri-menteri samudera acap kali membicarakanku di balik punggungku. Kini aku hanya menyendiri, menyepi dan menepi di suatu sudut samudera. Di tempat yang tak terjangkau oleh sinar mentari, di tempat yang diasingkan oleh para penghuni samudera dengan topeng-topeng kebaikannya. Aku nelangsa, sejujurnya. Aku tersiksa oleh kesendirianku di pojok lautan. Akan tetapi di sini aku aman. Tidak ada makhluk bertopeng tersenyum di depan, namun menusuk punggungku. Di sini aku lebih aman. Aku aman di dalam kesendirianku, dibandingkan dalam hiruk pikuk keramaian yang berlangsung dalam samudera. Aku takut. Tersiksa. Muak.

Dahulu aku adalah batu yang tinggal di pinggiran sungai dekat samudera. Tiap hari yang ada hanyalah kesenangan dan kebahagiaan. Bermandikan sorot cahaya hangat dan dibuai oleh nikmatnya alam. Setiap hari aku dimanjakan oleh tempat tinggalku. Aku menari ditemani rerumputan hijau dengan irama deru arus sungai. Aku dikelilingi oleh bebatuan yang mengagumiku. Aku adalah pusat perhatian. Aku adalah bintangnya!

Bodohnya aku tergoda. Tergoda untuk menceburkan diri dalam sungai. Aku tidak puas hanya bermandikan hangatnya cahaya surya. Aku ingin lebih. Aku ingin lebih! Aku terjun ke dalam sungai yang kemudian dengan kejam menyeretku dalam arusnya. Oh sungguh di luar dugaan. Deru arus sungai yang kerap menjadi irama tarianku kini bergolak menarik tubuh tanpa ampun. Tubuh ini terus terseret arus yang menerjang. Berjuang tanpa harapan. Mata ini hanya bisa nanar memandangi kenangan-kenangan lampau. Tempat aku dipuja, tempat aku menjadi pusat perhatian.

Aku terseret arus sungai, arus waktu. Aliran itu bermuara pada samudera tanpa daratan di permukaan. Menyedihkan. Sungguh menyedihkan. Di sini banyak orang, memang. Tapi aku bukanlah pusat perhatian, bukan poros pergaulan. Oh dapatkah kau bayangkan betapa merananya diriku? Aku haus perhatian, perhatikan aku! Perhatikan aku!

Ini adalah samudera yang kejam. Kala aku ingin orang lain memperhatikanku, yang kudapatkan hanya cemoohan dan hinaan. Semakin aku berusaha tampil menjadi yang paling menonjol, para predator langsung menjeratku. Menarikku untuk tetap tenggelam di samudera. Aku terombang-ambing di tengah lautan, di bawah permukaan. Pyash! Setelah tenggelam sekian lama, aku berhasil muncul di permukaan lagi. Aku menarik nafas, menghirup udara yang dulu adalah hal yang biasa dan tak berharga bagiku. Aku berjuang untuk tetap berada di permukaan. Tempat paling tinggi di samudera, tempat di mana orang lain bisa melihatku, tempat di mana aku bisa memuaskan keinginanku untuk diperhatikan.

Hentakan kakiku mulai melemah. Sudah sekian waktu aku bertahan di permukaan. Menghentakkan tubuh tanpa henti, demi berada di tempat tertinggi. Aku lelah. Sungguh lelah. Hanya ada predator samudera yang menarikku untuk tenggelam. Tak ada teman, mungkin rasa kesepian dan kesendirian adalah teman-teman sejatiku. Kakiku lelah, tubuhku letih. Aku berhenti berjuang. Kubiarkan diriku untuk tenggelam dalam samudera yang kelam. Aku hanya dapat menatap miris sang mentari di balik permukaan air. Perlahan namun pasti, sinar matahari pun mulai samar seiring tubuhku yang terus tenggelam. Dan aku terhempas dalam gelapnya samudera malam.

Gonjang-Ganjing Samudera : Kisah Batu Tenggelam

Gonjang-Ganjing Samudera : Kisah Batu Tenggelam
Ini adalah cerita tak berawal dan tanpa akhir. Tak ada plot maupun alur. Sekadar gonjang-ganjing.

Alkisah di samudera luas tinggalah Batu Tenggelam. Batu Tenggelam adalah seorang pendatang baru yang sudah tinggal kurang lebih 6 bulan di samudera. Ianya banyak berkelana, bertualang, dan bercengkrama ketika tinggal di samudera ini. Hingga satu saat ketika Batu Gunung mendengar Batu Tenggelam hendak pergi dari samudera karena sudah tak nyaman ditinggali lagi.

Bukannya Batu Tenggelam mempunyai peran vital di samudera, hanya saja karena seisi samudera telah menganggapnya bagian dari keluarga maka Batu Gunung pun mewartakannya pada rakyat. "Hai saudara-saudara, ananda dengar Batu Tenggelam hendak meninggalkan samudera! Apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Batu Gunung di tengah khalayak ramai. Beragam jawaban pun muncul.
"Apa? Mengapa Batu Tenggelam hendak meninggalkan samudera? Ada apa gerangan?"
"Benarkah?"
"Kita harus tahu penyebabnya dahulu, kemudian bertindak!"
"Sudahlah, kalau ia ingin pergi biarkan saja."
Berbagai pertanyaan membombardir Batu Gunung, pertanyaan utamanya adalah "Mengapa?" dan "Apa penyebabnya?". Batu Gunung tidak mengerti kondisi Batu Tenggelam sepenuhnya, maka Batu Gunung dan beberapa anggota rakyat berdiskusi membicarakan fenomena yang terjadi ini.

Ruang tempat diskusi adalah bangunan sederhana, perwakilan-perwakilan yang tersohor hadir dan menghiasi ruangan. Beberapa orang tak dikenal turut bergabung ke dalamnya. Rakyat pun hadir dengan beragam tujuan, ada yang sekadar ingin tau, ada yang haus informasi akan situasi politik, ada pula yang hadir untuk membunuh kebosanan. Ruangan tersebut penuh sesak namun tetap nyaman karena hembusan angin semilir tiada henti membalut pojok-pojok dinding ruangan. Orang-orang duduk setara satu sama lain melingkari ruangan. Ada yang duduk dua shaf maupun tiga shaf karena ruangan yang tidak mencukupi. Beragam metode duduk mereka gunakan, bersimpuh, sila tumpang, dan lain sebagainya. Lilin-lilin besar dinyalakan di area tengah ruangan yang memang lowong tidak ditempati oleh seorang pun.

"Mengapa ia ingin pergi dari samudera?" pertanyaan pertama terlontar kala diskusi baru saja dibuka. Batu Gunung pun menceritakan alasan yang ia ketahui.
"Apabila demikian," sambung seseorang seusai Batu Gunung selesai bercerita, "terjadinya peristiwa ini adalah kesalahan kita sebagai rakyat samudera. Begitu kan?"
"Tunggu sebentar, kisanak. Bagaimana mungkin ki mengatakan kalau ini semua kesalahan kita? Apa yang telah kita perbuat pada Batu Tenggelam?" balas yang lain.
"Saya pun tidak tahu. Akan tetapi duduk persoalannya adalah "ketidaknyamanan". Berarti kita sebagai penghuni lama gagal membuatnya "nyaman". Itulah kesalahan kita."
"Itulah yang tidak saya pahami. Kenyamanan itu sangatlah subjektif, kisanak. Kalau boleh tau, tindakan konkrit apa yang telah kita perbuat sehingga kisanak mengatakan ini semua murni kesalahan kita?"
"Tunggu sebentar hadirin, ini bukanlah saat yang tepat untuk melihat kesalahan siapa ini sebenarnya. Bukankah begitu? Saya ingin bertanya pada khalayak, adakah orang-orang seperti Batu Tenggelam?"

Semua orang diam, hening. Gemerisik daun dan pepohonan menyumbang suara meramaikan suasana ruangan. Api lilin menggeliat kesana kemari seakan melongok memperhatikan raut muka orang-orang yang hadir. Batu Gunung pun angkat bicara, "Beribu maaf kisanak, saya tidak mengerti apa yang kisanak maksudkan."
"Tentu Batu Gunung," orang tersebut tersenyum simpul seakan telah menebak reaksi hadirin di sekitarnya. "Maksud saya adalah kita sibuk mendiskusikan Batu Tenggelam, jangan-jangan selain dirinya ada pula orang lain yang hendak pergi dari samudera karena tidak nyaman? Itu saja."

Ucapan dari seseorang yang kharismatik tersebut membuat hadirin tertegun. Memang benar. Ibarat berfokus pada ranting yang mati, namun bisa saja malah akarnya yang busuk. "Maaf sebelumnya kisanak, namun berkenankah Saudara memperkenalkan diri? Saya berfirasat kisanak bukan orang biasa."

"Beliau adalah Raja Gunung," ucap Batu Gunung. "Nampaknya Raja Gunung sedang berkelana. Mengapa paduka berkata demikian, apakah ada yang paduka risaukan?"
Raja Gunung tersenyum simpul. "Aah, saya paham," ujar seorang rakyat. "Apakah paduka gundah dan risau dengan Batu Lubang? Maaf beribu maaf paduka, namun saya dengar dari suara akar rumput bahwa paduka pernah menjalin kasih dengan Batu Lubang. Kemudian rumor beredar bahwa dirinya juga hendak meninggalkan samudera."
"Berita itu benar, namun sudah tidak lagi," balas Raja Gunung. "Ya, saya hanya takut kita tidak sadar adanya masalah besar yang siap menerkam dan melumat masing-masing di antara kita jika kita tidak menemukan akar masalahnya. Saya kira tidak hanya Batu Tenggelam yang berkeinginan meninggalkan samudera."

"Bisa jadi, masalah tersebut diakibatkan Penguasa Samudera yang telah uzur," guman seseorang.
"Mungkin saja kisanak, beliau memang dekat dengan rakyat samudera salah satunya Batu Tenggelam. Akan tetapi dirinya kini telah uzur, sangat disayangkan memang. Saya harap penggantinya memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan beliau. Rumor beredar beliau hendak menyerahkan kekuasaannya pada salah satu dari tiga orang yang terpilih," sambung orang yang lain.
"Ya, ada tiga calon kuat. Adipati Harta, Raja Rahayat, dan Dewa Gembrit. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda-beda."
"Apakah mungkin, gejolak dalam samudera akhir-akhir ini disebabkan oleh hal tersebut. Permisi dan maaf beribu maaf paduka, bagaimana pendapat paduka Raja Gunung?" 
Sosok Raja Gunung yang memang senang bercengkrama setara dengan rakyatnya pun berbagi kabar mengenai sifat-sifat tiga calon dengan khalayak kemudian mengakhiri kisahnya, "Begitulah keadaan petinggi, namun saya pun tidak banyak tahu mengenai kebenaran kabar tersebut, bisa saja Saudara semua lebih tahu daripada saya. Bagaimana pendapat kisanak sekalian?"

"Saya kira memang benar adanya, bahwa Raja Rahayat adalah sosok yang kharismatik dan bertanggung jawab. Beliau diangkat menjadi raja karena pendahulunya lari dari tanggung jawab mengurus kerajaan. Raja Rahayat, yang tidak memiliki silsilah dalam kerajaan tersebut, diangkat berdasarkan kesepakatan rakyatnya. Bukan pilihan yang buruk jika menjadi Penguasa Samudera, bukan?"

"Tidak buruk memang. Tapi Raja Rahayat belum lama memegang tampuk kekuasaan. Kita belum dapat menegaskan kualitasnya jika belum "teruji", benar bukan kisanak sekalian? Saya melihat, Adipati Harta tidak buruk apabila memangku jabatan penguasa tertinggi. Ia seseorang yang berkeinginan keras, memiliki penglihatan jauh, tegas, disiplin, dan bertanggung jawab pula. Akan tetapi," seseorang tersebut menghela nafas, "dirinya belum bisa dikatakan dekat dengan rakyat samudera. Pemimpin yang berkualitas jika didukung dengan rakyatnya akan menjadi pemimpin yang legendaris, menurut saya."

Hening sejenak. Suasana sunyi. Perkataan khalayak mengenai calon-calon telah dirangkum dalam pembicaraan sebelumnya. Kesepakatan pendapat. Kesepahaman. "Kemudian, bagaimana dengan Dewa Gembrit?" seseorang di tepi ruangan angkat suara. Cahaya temaram dari lilin tertiup angin, bergoyang mengaburkan bayangannya di dinding.

"Beliau adalah calon yang paling dekat untuk menjadi penguasa samudera," ucap seorang pemikir yang telah mempertimbangkan perkataannya masak-masak.
"Benar. Saya rasa juga demikian."
"Tidak salah memang. Ia memiliki kedekatan dengan rakyat dan telah teruji. Bukankah beliau adalah Raja Gunung terdahulu? Bagaimana menurut paduka?"
"Kisanak sekalian benar dan tepat. Ia memiliki sifat yang teladan, pemerintahannya dulu pun sangat baik. Kedekatan dan dukungan dari rakyat selalu menyertainya. Hanya saja..," Raja Gunung tidak meneruskan kalimatnya.
"Hanya saja apa, Paduka?" tanya seseorang yang penasaran.
"Bagaimana mengatakannya, ya. Baiklah. Hanya saja saya dengar beliau tidak berkeinginan untuk menjadi penguasa samudera," jawab Raja Gunung ragu-ragu.

"Benarkah demikian? Dewa Gembrit tidak mau memangku jabatan tertinggi?"
"Dari siapa paduka mendapat kabar?"
Orang-orang yang hadir dalam ruangan pun riuh. Berbagai pertanyaan tanpa sadar terlontar. Berbagai pernyataan tanpa diketahui kebenarannya tercetus. Mereka berdiskusi dengan rekan di samping kanan kirinya. Orang-orang yang hampir melaju ke alam mimpi terjaga, kaget dengan individu-individu yang sedari tadi ingin berpendapat. Mengherankan memang. Jarang sekali ada orang yang menolak untuk meraih tonggak pemerintahan samudera.

"Harap tenang saudara-saudara sekalian," seru Batu Gunung berusaha mengendalikan suasana. "Belum ada seorang pun yang tahu kebenaran kabar tersebut, Raja Gunung pun telah menegaskan kabar tersebut belum tentu tepat, saudara sekalian."

"Batu Gunung benar. Belum ada yang dapat memastikan kebenaran kabar tersebut, sekalipun itu saya," ucap seseorang di dekat pintu ruangan yang tertutup. Semua orang bertanya-tanya dalam hati mengenai sosok orang tersebut.
"Pertama-tama saya haturkan maaf yang sebesar-besarnya, namun saya ingin tahu siapakah gerangan kisanak? Seakan kisanak tahu betul dengan apa-apa yang terjadi di Istana Penguasa Samudera."
"Saya? Hmm, saya tidak tahu betul dengan apa yang terjadi di istana. Akan tetapi saya mengerti luar dalam mengenai Dewa Gembrit?"
"Bagaimana mungkin?"
"Saya sendirilah yang kalian sebut dengan Dewa Gembrit," ujar Dewa Gembrit sambil membuka jati diri.

Berbagai pertanyaan terlontar. Suara satu sahut menyahut dengan suara yang lain. Tidak ada yang mau ketinggalan. Tidak ada yang mau kalah. Semuanya ingin tahu kabar mengenai sosok yang kharismatik dari sumbernya sendiri. "Saya pun tidak tahu jika saya menjadi calon, kisanak sekalian," tegas Dewa Gembrit, "apabila benar demikian, saya pun tidak bisa memutuskan. Saya senang berkelana dan mengembara. Akhir-akhir ini memang saya memutuskan untuk bertapa dan mengasah ilmu lebih lanjut serta meninggalkan samudera. Saya bimbang, ditambah lagi dengan kabar penyerahan kekuasaan Penguasa Samudera. Saya tidak tahu, semuanya adalah kehendak Sang Hyang Widhi." Dewa Gembrit kemudian mohon pamit dan berangkat menuju pengembaraan tanpa seorang pun yang mengetahui tujuannya.

Diskusi dalam ruangan tersebut berjalan hingga larut. Hampir semua orang menahan kantuk. Semangat berbicara pun mulai surut. Akan tetapi tak ada satupun yang ingin membubarkan diri di tengah diskusi. Sebelum masalah tuntas, atau paling tidak tercipta kejelasan dan penerangan lebih lanjut akar masalah yang terjadi. Lilin-lilin telah susut. Cahayanya semakin temaram, tak seperti ketika awal disulut. Hembusan angin malam mondar-mandir ingin mendengar kabar baru. Sunyi. Hingga akhirnya seseorang memberanikan diri untuk berbicara.

"Saudara sekalian, bukannya saya ingin melarikan diri dari masalah. Peristiwa yang menjadi pokok bahasan kita adalah Batu Tenggelam, bukan? Saya kira Batu Tenggelam, maupun rakyat samudera tidak ada yang bodoh. Artinya apabila seorang rakyat samudera memutuskan untuk bertindak sesuatu, pasti didasari pemikiran yang matang ataupun kepercayaan diri yang tinggi. Apabila tindakan tersebut salah, tentu ia akan sadar dan kembali ke jalan yang benar." Ia menarik nafas panjang yang nampaknya habis ketika mengucap pernyataan sebelumnya, kemudian menghembuskannya perlahan dan meresapinya dalam-dalam.

Ruangan hening, seluruh perhatian terfokus pada satu suara. "Sesuai kata kisanak sekalian, kenyamanan itu sangat subjektif. Berbeda-beda tiap orangnya sehingga sulit untuk dicari jalan keluarnya. Selesai. Masalah para petinggi itu memang menyangkut kita, namun bukankah tadi sudah dibicarakan bahwa tiap-tiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya masing-masing? Yang bisa kita lakukan sekarang hanya berusaha dan berdoa, sebaik mungkin. Tentu saja jangan lupa mensyukuri segala hal yang sudah, sedang, dan akan terjadi. Sesungguhnya seseorang tidak menyadari betapa beruntungnya ia, jika belum bertemu dengan kondisi yang lebih buruk daripada kondisi dirinya saat ini."

Semua orang tertegun. Diskusi ditutup dengan senyum mengembang di bibir masing-masing. Menanti diskusi serupa selanjutnya.


Delesember, 28-29.12.2013

Delesember, 28-29.12.2013
Delesember, operasional terakhir bulan Desember...

Dua minggu sudah saya vakum dari kegiatan FUD 2014 karena adanya sedikit "kecelakaan" dan acara keluarga. Di awal minggu si tua-tua (baca: Yandi Dyaning) sudah ngajak ikut ops minggu ini ke Deles, engga enak kalau nolak. Apalagi saya juga baru sekali main di area Deles. Jogging, CT, naturta, wah saya sudah mulai kewalahan karena lama tidak membiasakan berolahraga. Beruntung bisa kembali ke sekret tanpa tepar atau dipapah orang lain.

PO berjanji akan memberikan pos yang "beda" daripada biasanya, dan keputusannya disampaikan waktu briefing. Ta-da! Saya yang awalnya deg-degan karena mengira akan mendapat pos konsumsi, ternyata diplotkan ke dokumentasi..lagi. Oke deh, santai. Dokumentasi adalah pos yang paling selow, saat pre. Waktu during dan post, haha, saya hanya bisa tertawa getir. Satu hal yang membuat saya geli pada saat packing, pembagian perkap timnya sangat baik hati! Saya hanya membawa tramontina dan pasak, sedangkan yang lain dapat yang berat-berat. Alhamdulillah. 

Sabtu pagi, kami berkumpul di sekret. Seperti biasa upacara keberangkatan kami tidak berbarengan dengan tim lain karena budaya ngaret yang memprihatinkan. Berangkat menuju Deles. Di perjalanan, kami terpisah menjadi dua kloter. Saya ada di kloter belakang. Akhirnya kami memilih jalan berbeda yang sudah jelas tujuannya daripada berspekulasi tim depan hilang lewat jalur mana, toh kloter depan berpengalaman semua. Saya segera mengontak Dyaning dan mengatakan kalo terpisah, ia pun menjawabnya dengan segera. Tahun kemarin, memang kami berdua hampir selalu membonceng sehingga kalo ada kejadian tak terduga selama di jalan kami segera mengontak anak-anak boncengers.

Sesampainya di rumah Mas Darto (kalau tidak salah), basecamper kami, saya melihat anak-anak kloter depan juga sudah sampai. Kami bersalaman dan mengobrol dengan warga yang ada di rumah itu. Sedang panen nampaknya. Pada saat kami akan memasukkan motor ke dalam rumah sayur mayur hasil panen tersebut dipinggirkan agar tidak menghalangi pintu. Saya jadi ingat tahun kemarin Febri dan Mas Darto mengobrol soal pembibitan brambang (bawang merah) dan bawang (bawang putih). Febri (juragan bawang merah) yang engga mengenal istilah ini pun mengobrol ngalor-ngidul cara pembibitan ala Brebes. Begitu dihadapkan bawang, terkuak sudah bahwa pembicaraan keduanya tidak nyambung.

Kami pamit kemudian naik ke area wisata yang banyak digunakan pemuda-pemudi untuk berduaan, meskipun kalau mau jujur pasti mereka sadar kalau mereka tidak sedang "berduaan". Apa boleh buat, mungkin bagi mereka dunia sudah menjadi milik berdua. Pemanasan, orang-orang melihat dengan pandangan penuh tanya. Cuek saja, pemanasan kami selingi mengetes tas karier orang lain bisa berdiri atau tidak. Tas saya aman, ia sedang bersandar di balik pepohonan. Yandi bernostalgia, kami tahun lalu pemanasan tak jauh dari area itu sambil membicarakan ayah Afiq yang makan biji apokat pas waktu muda dulu. Dyaning menambahkan pembicaraan arah utara, karena menurut salah satu teman kami "kalau ada jalan menanjak berarti itu arah utara".

Perjalanan dimulai, kami berjalan perlahan ke arah utara menyusuri sungai di sebelah kiri yang lebih mirip jurang menganga. Leader yang mungkin bosan menapaki jalanan aspal pun belok ke arah kiri, jalur yang biasa dilalui para pencari rumput dan lebih dekat dengan jurang. Belum ada 30 menit berjalan, kami berhenti. Beberapa mengambil nafas, Ghozi dengan hp barunya yang menandingi kemewahan hp Yandi mulai berlaga dengan fitur kameranya. Yandi seakan tak mau kalah, hp harga motor segera dikeluarkan untuk mengambil objek-objek tandingan. Saya sebagai dokumentasi hanya bisa menghela nafas panjang dan memfoto apa saja yang bisa saya foto dengan digicam.

Titik pertama pun ditemukan, ujung punggungan hingga mencapai tikungan jurang, punggungan pun menikung ke arah kanan. Bicara soal tikung-menikung, ada oknum-oknum yang juga bersaing mendapatkan seorang wanita. Oknum tersebut sama-sama ada di tim gunung kala itu. Oknum pertama mendapatkan, namun oknum kedua berbesar hati. Meskipun terkadang oknum pertama jumawa akan kemenangannya dan mencela kesendirian oknum kedua, namun nampaknya hubungan mereka tetap baik. Kami snacking dan sholat di titik itu.

Berlanjut ke titik dua, leader pun berganti. Kami menyeberang ke arah timur kemudian ke utara. Sempat kami bertemu dengan rombongan dari SMA Jogonalan. Diksar katanya. Di telinga saya, kata itu apabila diucapkan oleh organisasi SMA terdengar seperti perpeloncoan. Ah, terserahlah. Tidak terlalu jauh dan medannya cenderung datar ditambah pemandangan pohon pinus yang berjajar rapi di sekeliling kami, sehingga titik dua dapat dicapai kurang dari 2 jam. Di bawah pepohonan teduh kami memarkir tas karier dan menikmati pemandangan di pinggir jurang sembari menunggu leader dan kadiv membaca bentukan. Persaingan antara dua hp mahal pun belum usai, biarkan sajalah. Titik dua benar, tapi kurang naik sedikit kira-kira 25 meter seru kadiv. Akan tetapi hawa yang sejuk membuat kami mager, enggan bergerak lebih jauh.

Titik tiga giliran Mayang dan saya nge-leader. Saat itu kira-kira pukul 14.00. Saya berkonsultasi dengan kadiv dan mantan kadiv, mau disampaikan titiknya hari ini atau besok. Akhirnya diusahakan hari ini dapat meraih titik yang diharapkan. Kami berjalan di depan, menemui lembahan dan berdiri punggungan di sebelah kanan kami. Ormed sebentar, menerka posisi kami berada kemudian merancang jalur yang sekiranya mungkin ditempuh. "Mau mengitari atau trabas aja?" tanya sada pada Mayang.
"Hmm, gimana ya. Bingung aku."
"Lho jangan bingung, tinggal mau mengitari atau trabas saja. Masa berhenti di sini."
"Ya udah, kalo trabas gimana?"
"Ya ambil kanan terus, trabas aja."

Kami pun segera mengambil rute garis lurus ke arah kanan, cukup terjal memang. Pada saat mendaki punggungan ini, kemiringan sekitar 60-75 derajat sehingga perlu meraih tanaman-tanaman yang menjulur di sekitar tangan. Sampai di atas punggungan, beberapa memerlukan bantuan arahan agar dapat menginjak jalur di atas. Tangan-tangan siap menarik terjulur demi keselamatan tim dan pahala. Ketika sudah di jalur punggungan, kami pun turun lagi ke arah timur. Cukup terjal..lagi. Punggungan yang kami lalui tadi adalah punggungan sempit dan hampir simetris, artinya kalo turun kemiringannya hampir sama dengan kemiringan pada saat naik. Tidak ada jalur turun, terpaksalah menyibak jalur. Saya cukup kaget dengan ilalang/rumput gajah yang tingginya hampir se-manusia ini. Beberapa kali saya harus berjongkok untuk mengecek pijakan saat menuruni punggungan tersebut.

"Hati-hati, ntar jatuh ke jurang kayak Afiq," seru Yandi dari atas.
Memori saya melaju pada peristiwa setahun yang lalu. Di area yang serupa, kami menjelajahi rimba lereng Merapi ini. Waktu itu kami konturing, mengitari punggungan untuk mencapai titik di sebelah timur kami. Tidak seperti saat ini yang mengambil opsi trabas, tahun lalu kami "main aman" dengan mengitari area. Saat itu pertama kalinya kami di Deles dan tidak ada "senior" yang menemani. Hingga satu insiden, rekan kami tergelincir saat sedang konturing di tebing yang penuh dengan semak-semak. Wajar, jalan yang kami tempuh adalah jalan setapak yang sempit jadi harus senantiasa berpegangan tanaman yang ada di sebelah kiri kami. Rekan saya terpeleset, terduduk kemudian mengguling ke kanan. Beruntung dia sempat meraih tanaman. Yandi ada di depannya, dan saya berada di belakangnya tapi agak jauh.
"Hahaha, hahahaha," Yandi tertawa tanpa henti waktu itu.
"Tulung, tulung," teriak rekan saya yang jatuh sambil meronta minta pertolongan.
"Wah, wah, lumayanlah. 8.5 dari 10 poin!" ucap saya, memang saat itu menilai style jatuh sangat umum kami lakukan.
"Eeh, kasian. Tolongin lah," Dyaning yang ada di depan Yandi pun ikut menanggapi, agaknya kasihan seniornya meronta-ronta berusaha bangkit.
"Hahahaha, hahahaha," tawa Yandi, melihat usaha rekannya seperti cacing menggeliat kepanasan, seraya mendongak ke atas dan memejamkan mata.
"Coy, tenanan iki. Tulung, tulung, coy," iba rekan saya yang nampaknya sudah kelelahan  menggantung.

Rekan saya yang satu itu jempolan dalam segala hal, salah satunya kepecintaalaman. Skill dan tekniknya tinggi, kemampuan memanjat tebingnya setara kadiv saat itu. Aneh juga melihat dia pasrah menggantung di tempat itu, meskipun beberapa kali ia telah berusaha naik tapi gagal. Malah membuatnya lebih lucu. Kami pun menariknya ke jalur, aman. Tidak ada masalah. Belakangan baru kami tahu kalau di bawah adalah tebing tanah yang curam. Kalau saya yang terpleset pasti sulit naik lagi, malah mungkin sudah jatuh ke bawah. Kembali ke saat ini, saya pun hanya tertawa kecil mengingat peristiwa itu. Saya sampai di dasar lembahan.

Mayang tidak menggunakan jalur saya, ia menggunakan jalur berbeda. Ia juga sampai di bawah, diikuti dengan yang lain. Kami melanjutkan perjalanan. Start punggungan, satu lembahan, punggungan kecil, satu lembahan, punggungan terjal lagi. Kami mendaki punggungan ini, sedikit lebih terjal dibandingkan punggungan yang kami trabas pertama tadi. Well done! Sampailah kami di atas punggungan ini. Familiar. Ya, tahun kemarin kami mendirikan tenda di punggungan ini. Inikah titik yang dimaksud? Saya awalnya yakin.

"Bukan, titiknya masih di seberang sana lagi," ucap mantan kadiv.
"Lah kok bisa? Terus ini di punggungan mana?" tanya saya, enggan melangkah lagi jika salah titik.
"Ini kan ada punggungan sempit banget," ucapnya sambil menggariskan ranting kecil ke atas peta, "titiknya masih ke timur lagi nglewatin lembahan."
Lemas sudah. Argumennya memang benar mengingat sempitnya jalur yang sedang kami singgahi. Ini punggungan sempit. Bentukan peta pun tepat. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.55, hampir waktunya ngecamp. Tapi mau ngecamp pun tak ada tempat mengingat sempitnya area ini. Lanjut.

Saya berjalan di depan Mayang, takut juga kalau nanti dia kurang hati-hati menentukan pijakan apalagi kedua tangannya lebih sering dilipat daripada meraih tanaman untuk memperkuat pegangan. Jalan turun tidak separah punggungan sebelumnya maupun jalur naik tadi. Hanya saja, kami harus berhati-hati menentukan tempat turun mengingat curamnya tebing di bawah yang sempat kami lihat tadi. Salah-salah malah terjun bebas. Meskipun tidak terlampau tinggi, mungkin hanya 1,5-3 meter saja, namun tetap saja. Berhasil sampai bawah setelah "ngaspal" jalur, kemudian diikuti yang lain. Aad nampaknya uji nyali dengan berdiri bersandar pada batang pohon di pinggir tebing. Saya yang ada di bawah bergidik ngeri. Tampaknya ia juga merasa ngeri kemudian memutuskan untuk segera turun. Gantian Yandi uji nyali, ia berlari kecil dari atas kemudian bergelantung di dahan pohon. Salah perhitungan! Tidak ada pijakan yang bisa membuat ia terhenti, badan bagian bawah Yandi pun terlempar ke arah depan, di bawahnya tebing berketinggian 2 meter lebih. Beruntung kedua tangannya masih kuat mencengkeram sehingga pada saat tubuhnya mengayun ke belakang, ia menemukan pijakan kembali. Kita semua menghela nafas lega.

Punggungan berikutnya, titik ditemukan. Well, jalur paling berkesan karena terabasannya cukup mantap. Jam telah menunjukkan pukul 15.45. Diputuskanlah untuk mencari tempat camp. Ormed dan lihat peta, tidak nampak adanya area untuk camping 10 orang. Dhika menyarankan camp di tempat lapang nan indah yang ditemui tahun kemarin. Letaknya di awal punggungan, dan cukup jauh. Afiq dan saya tidak ke area itu karena kami ada skoring di Kebumen tahun lalu. Akhirnya Diska dan Ghozi leader dan bergegas menuruni punggungan. Kami turun secepat yang kami mampu, sudah senja.

Jatuh? Biasa. Apalagi saat tergesa-gesa seperti ini. Di depan saya ada Yandi, kemudian Dyaning, belakang saya ada Vivi, Mayang, Dhika, Aad, Febri. Yandi menegaskan bahwa jatuh itu menurunkan harga diri tim gunung. Tidak lama kemudian, ia terjatuh ke dalam lubang hingga tubuhnya tak kelihatan. "Memang jalur ini harus jatuh dulu, oi!" kilahnya. Tapi memang demikian, jalur itu menuruni dahan pohon. Pijakan tanah berselisih lebih dari 1 meter. Jalan lagi. Berhenti sejenak.
"Kok berhenti, Je," ucap saya pada Dyaning.
"Bentar, nungguin depan."
"Hati-hati jatuh," kata Yandi.
"Kalau jatuh bilang ya, Je," ujar saya agar dapat mengabadikan momen saat ada yang jatuh.
"Iya, iya."
"Kalau jatuh bilang ya," sambung Yandi, "entar aku bilang hati-hati."
"Iya, ah." Dyaning pun berbalik, dan jatuh. "Aduh!" pekiknya.
"Yah kan aku bilang, kalo jatuh bilang-bilang, Je," ucapku sambil menahan tawa.
"Iya nih, jatuh. Huhuhu."
"Hati-hati ya," ucap Yandi memenuhi janjinya.

Kami turun lagi, kali ini jalur turun sudah tidak terjal seperti tadi lagi sehingga memungkinkan untuk dituruni dengan berlari kecil. Wuss, wuss, wuss. Lari turun. Tim LTMJ memang top ketika turun gunung, namun entah dengan tim yang ini. Brukk! Aad terpeleset ketika berlari turun, ia memeluk batang pohon di dekatnya yang entah ia tabrak atau malah menyelamatkan nyawanya. Dyaning pun tertawa lepas, melihat ekspresi Aad yang masih kosong. Shock nampaknya. Sambil menunggu Aad pulih, Yandi memplester sepatunya didampingi Dhika. Turun, tak lama kemudian kami menemui tanah lapang yang indah mirip sabana.

Kami bermalas-malasan sembari bersenda-gurau. Dhika dengan pose tidurnya. Vivi dengan botol ajaib dan gaya fotogeniknya. Dan duo-hp-mahal dengan senjatanya masing-masing. PO dan kadiv sibuk mencari tempat camp. Sekembalinya mereka berdua, timbul perdebatan mengenai tempat camp. Akhirnya sepakat untuk melihat tempat yang ditentukan oleh PO, nyaman juga. Kami pun mendirikan tenda dan jemuran di area itu.

Tenda sudah berdiri, peralatan masak dikumpulkan menjadi satu, bahan makanan telah dipisah, dan pembagian tidur sudah ditentukan. Saya kebagian Consina bersama Yandi, Ghozi, Vivi, Mayang, dan Dyaning. Sholat, masak malam! Masak dimulai lebih cepat, kira-kira pukul 18.00. Kami menyempatkan Maghrib dahulu sebelum menyantap makanan. Makanan jadi pukul 19.15an, makan! Mungkin karena kelelahan, Vivi dan Mayang tepar seusai makan. Aad, Febri, Dhika, dan Yandi mencari kayu, daun, dan biji cemara kering untuk membuat api unggun sederhana. Kami melalui malam dengan menyusun teka-teki, tebak-tebakan, dan cerita-cerita. Tertawa lepas hingga malam menjelang. Tengah malam, kami beristirahat di tenda masing-masing.

Pagi itu masih pukul 03.00 dini hari, saya tahu betul karena jam tangan disisi kiri saya. Suara teriakan dan bentakan pria maupun wanita membahana di area camp. Perintah-perintah seperti "Baris yang rapi!" "Jongkok!" dan lain sebagainya pun berkumandang. Ada satu dua bahkan menyelipkan kata-kata makian. Suara kayu yang dipukulkan ke pohon pun menambah gaduhnya suasana. Tak terdefinisikan dengan kata-kata. Oh "diksar", pikir saya sembari tersenyum getir, kemudian berusaha meraih alam mimpi lagi.

Bangun pukul 05.00 sholat, mapan tiduran lagi hingga matahari menjelang dan makanan hampir siap. Yah insiden ketinggalan bumbu masak pun sukses diakalin boss Dyaning. Alhamdulillah bisa makan lumayan enak. Kami pun makan di pinggir tebing, menikmati indahnya bentangan alam. Berberes, eh Vivi kembali ber-fotogenik-ria. Satu foto lagi. Pemanasan, jalan. Kami sempat bertemu dengan rombongan "diksar", bertegur sapalah kami. Kami beristirahat, para leader sedang cek jalur. Tebak-tebakan semalam pun muncul lagi.

Perjalanan berikutnya sempat terbagi menjadi dua kloter karena ketidakjelasan rute dan tujuan. Vivi, Yandi, Dyaning, dan saya satu kloter. Kami berada di atas punggungan, padahal kloter satunya berada di bawah punggungan. Kami pun menikmati pemandangan sambil mengamati kelakuan anak-anak di bawah. Ternyata titiknya benar berada di bawah, ya sudah kami turun, melepas tas karier dan menuju titik yang tak jauh dari tempat itu. Penjelasan titik pun diwarnai dengan tebak-tebakan. Emang dasarnya Aad terlalu sopan, sebelum mengejek Yandi dia minta izin dulu kemudian minta maaf. Haha. Usai sudah, kami pulang. Karena mengambil jalur lurus ke selatan, yang kami temui adalah komplek perumahan. Basecamp kami ada di sebelah barat lagi, maka kami lewat jalan komplek dan persawahan tersebut. Finally, basecamp!

Istirahat sambil ngeteh dan makan rambak (seperti kerupuk panjang), mengobrol dengan basecamper panjang lebar. Kami pun pulang ke arah sekret, namun mampir ke masjid dulu untuk menunaikan sholat. Teka-teki Palapsi muncul lagi sehingga kami betah berlama-lama di masjid. Pulang, kami mampir makan soto di daerah Jakal. Pilihan yang kurang tepat, tapi apa daya karena sudah terlanjur berhenti dan memesan. Kami hanya bisa menikmati santapan ini sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Deles, area yang masih belum banyak tereksplor. Menarik. Salah satu area yang akan selalu saya kenang. Tempat berubah, waktu berlalu, namun kenangan mampu bertahan lama. Kami berjalan pulang, deru kendaraan mewarnai perjalanan. Beruntung tidak turun hujan. Aih, mungkin ini yang terakhir kali saya ke Deles. Saya menoleh ke samping, mengamati kendaraan yang lalu lalang. Mata terpejam kemudian menarik nafas panjang, dan menghembuskannya dengan penuh penerimaan. Operasional terakhir di tahun ini, atau operasional terakhir bagi saya?

Orientasi Medan Wanagama, 7-8.12.2013

Orientasi Medan Wanagama, 7-8.12.2013
"nggra, plis banget ki melu ops yo. ben yandi yo melu dadi ana 2011e."

Malam itu, Jumat 6 Desember, saya membaca pesan dari seorang teman yang kebetulan menjadi PO operasional gunung TC #1 FUD. Tak lama kemudian, datang dua buah pesan yang bernada serupa dengan nomor pengirim yang sama. Yah memang masalah umur, fisik, dan juga izin memang menjadi kendala utama bagi saya ketika ingin mengikuti rangkaian FUD. Tapi tidak hanya itu, kebetulan saya diajak senior dan ketua palapsi untuk menjadi panitia dalam seminar "HOW TO BE A POTENTIAL CANDIDATE". Seminar itu berlangsung dari pagi hingga (hampir) sore hari, sedangkan ops dimulai sejak pagi-pagi sekali. Wah, jelas engga bisa.

Well, lihat entar aja. Alhasil saya mengikuti proses ops sebagaimana yang biasa dilakukan Palapsi. Pre-During-Post. Pre mencakup persiapan-persiapan yang harus dilakukan sebagai "syarat sah" layak tidak seseorang ikut ops. Kalo divisi gunung, pre tersebut meliputi jogging, CT, briefing, penentuan titik, studi peta, dan packing bersama (kalau tidak salah, hehe). Demi "ngayem-ayemi" PO akhirnya saya ikuti proses persiapannya sampai ke briefing dan penentuan masalah bantingan. Hanya saja saya menegaskan ke PO bahwa saya entah bisa ikut atau engga karena ada acara yang bersamaan itu. Tapi saya tau kalo sudah ikut briefing, ikut engga ikut ya harus melaksanakan jobdesc perpos dan membayar bantingan. Yah, resiko tim lama.

Selepas briefing, Yandi juga mengatakan hal senada ke forum. Dia ada praktikum besok jam 12 sampai jam 2 siang. Ikut engganya dia, entah. PO tampak makin ketar-ketir. Akhirnya kadiv memutuskan boleh nyusul aja, karena memang engga memungkinkan. Briefing selesai. Sampai di rumah, mikir lagi. Ikut engga ya?

Keesokan harinya, saya menyelesaikan tugas perpos dan membantu persiapan seminar. Hampir sama sekali tidak bertemu tim gunung, namun pas saya mau pulang tampak Dhika dan Febri. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut ops. Pilihan yang berat, memang. Ketika sudah sampai kamar, sms yang telah saya tuliskan di atas muncul di layar hp. Acuhkan saja. Kemudian datang 2 pesan serupa. Hmm, kasian sih tapi mau gimana lagi. Selang satu jam, ada pesan baru lagi. Yandi. Ia menyarankan saya untuk ikut ops dan nyusul bareng, karena dia males nyusul sendiri dan lupa jalan ke Wanagama. Bimbang jadinya. Entahlah. Saya pun tertidur.

Sabtu pagi, tim seminar harus standby pukul 07.00. Saya bangun, mandi dan bersiap-siap. Seonggok tas karier meringkuk di dekat lemari pakaian. Saya berpikir ulang. Ikut engga ya? Ikut engga ya? Ikut engga ya? Akhirnya saya putuskan untuk ikut ops (karena Yandi pagi itu juga sms lagi -.-), dan packing dadakan dengan sisa-sisa keterampilan yang pernah saya miliki. Voila, jadilah tas karier siap ops! Tapi kalau dibuka, tas itu sangat amburadul. Yah gimana lagi. Saya pamit, dan berangkat ke kampus.

Ternyata anak gunung yang datang belum ada separuhnya. Kebiasaan ngaret kayaknya udah mulai kelewatan ini. Yandi pun datang dengan tas karier Avtech dan pakaian opsnya. "Kamu praktikum pake itu, Yan?" 
"Gapapa Nggra, mbaknya bolehin kok," ucapnya sambil mengambil petunjuk praktikum. "Kamu jadinya ikut kan?"
"Ikut, Yan. Ntar bareng ya kita. Aku selesai jam 2an..mungkin."
"Yo. Kalo kamu ga ikut, ntar Dhika yang aku suruh tinggal di sini." Yandi pergi ke laboratorium, begitupun tim seminar yang mulai bergegas ke UC.

**skip <-> lagi seminar chuy**

Tepat pukul 13.00, seminar usai. Beberes bersih-bersih dan foto-foto, akhirnya jam 2 siang acara tersebut tuntas. Kami balik ke sekret Palapsi, saya bersiap-siap berangkat dan packing ulang. Makanan dus yang diberikan untuk panitia saya masukkan ke dalam tas, belum sempat menyantap makanan. Yandi datang, tampaknya skoring praktikumnya juga sudah selesai. Kami bersiap berangkat.
"Nggra, dapet sms dari PO engga?"
"Belum ngecek hp Yan. Ada apa emang?"
"Brimob sama Dyaning kecelakaan, tapi gapapa kok. Detilnya belum tau sih, haha."
"Seriusan?"

Ternyata anak gunung ada yang kecelakaan pas perjalanan menuju tempat ops. Wah bahaya nih. Jujur saya lebih takut di perjalanan ke tempat ops (terutama pakai motor) daripada opsnya sendiri. Pengalaman pribadi. Kami berdua pun berangkat bersamaan dengan redanya hujan yang deras menerpa. Beberapa anak sekret kaget dengan keberangkatatan kami. Kurang kerjaan, mungkin begitu yang ada dalam pikiran mereka. Keberangkatan diawali dengan kebingungan mencari motor Novi, kami berdua sama-sama tidak tahu apa motornya. Petunjuknya adalah kunci motor Honda, dan plat Bali (Novi asalnya dari Bali). Alhasil Yandi mencoba memasukkan kunci ke motor yang disangka-sangka. Dapatlah Vario merah motor Novi, padahal tebakan saya Honda Beat. Berangkat!

Perjalanan biasa-biasa saja, kami sudah dapet ancer-ancer Wanagama dari Febri. Yandi dengan skill motornya yang tinggi, ngebut sejak awal keberangkatan. Akan tetapi begitu melewati Bukit Bintang, ia melambat.
"Kenapa Yan?"
"Kalo ada rumah makan padang, berhenti bentar ya Nggra. Laper aku."
Kami berdua pun bagi tugas, Yandi lihat kiri dan saya lihat kanan. Nihil, tidak ada rumah makan padang yang buka sepanjang perjalanan. Bagi yang mau buka bisnis masakan padang, kayaknya bisa jadi peluang nih. Yandi pun menyerah, dia ngebut lagi. Tapi dia mendadak ambil kanan, menyeberang. Ohh, ada ayam goreng kali ini. Sepertinya rangkaian ususnya menyeruak minta jatah secepatnya.
"Ga jadi rumah makan padang nih?"
"Engga, seadanya aja deh."

Yandi turun. Saya menunggu di luar, males parkir. Biarlah dia makan sendiri, biar cepet hehe. Akan tetapi, belum ada 10 menit Yandi sudah keluar dari rumah makan tersebut sambil menenteng plastik putih.
"Lho, engga jadi Yan?"
"Di sana aja deh."
Entah apa yang membuat anak ini berubah pikiran sebegitu cepat. Saya pun tidak bisa menyimpulkan. Hanya mampu menerka, mungkin karena Dyaning, mungkin karena hari beranjak senja, atau mungkin rumah makannya tidak nyaman.

Kami sempat bingung dengan tempat parkir motor. Tahun kemarin, kami menitipkannya di sebuah pos jaga Wanagama. Kali ini, kami lihat tidak ada motor anak Palapsi yang parkir di pos jaga. Akhirnya berputar-putarlah kita mencari motor yang tersembunyi. "Wisma Murbei" begitu petunjuk yang diberikan PO melalui sms siang tadi. Murbei apanya! Kami menemukan motor terparkir rapi di Wisma Cendana!

"Yan, engga makan dulu kamu?" tanya saya mengingat betapa melas mukanya ketika mencari rumah makan padang.
"Engga, di sana aja. Keburu malem juga."
Hmm, memang ops kali ini modal nekat bagi kami berdua. Tidak ada sesi studi peta. Tidak membawa GPS. Tidak ada gambaran jalur yang akan ditempuh. Tidak tahu informasi terkini keberadaan tim yang berangkat sebelumnya. Tidak ada tenda. Hanya ada petunjuk "Camp di sekitar titik Dhika tahun kemarin". Sebagai antisipasi, kami berdua telah membawa perlengkapan survival sederhana untuk mendirikan shelter dan bermalam. Dan juga makanan eksklusif masing-masing tentunya, haha. Saya salut dengan semangat Yandi untuk menemani tim FUD ini sampai menerjang resiko-resiko di atas. Well, tanggungjawab mantan kadiv. Saya sih hanya menemani, dan hura-hura.

Kami bersiap-siap. Bisa jadi karena terdesak, persiapan tersebut menjadi begitu singkat. Tas, ponco, pakaian ops, sepatu, dan snack. Tepat pukul 15.30 kita berjalan menyusuri jalan, menyusuri ingatan setaun yang lalu di Wanagama. Kami menandai Wisma Cendana dan titik Dhika (tahun kemarin) di peta, mempelajari rute dan bentukan alamnya. Peta kami simpan dalam tas. Belum begitu berguna saat ini, nanti ketika nyasar saja. Kita berjalan menelusuri jalan (aspal dan paving) dengan ritme normal, sekalian pemanasan. Yandi yakin nanti kita akan bertemu dengan gubuk dekat tikungan sungai. Ya, ingatan saya pun demikian.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol tentang kehidupan masing-masing. Meskipun hampir 3 tahun satu tim, saya tidak banyak tahu tentang dua rekan saya, Yandi dan Afiq. Tak terasa, kami sudah sampai gubuk dan menyusuri jalan setapak menuju tikungan sungai. Tahun lalu, kami beristirahat di titik ini setelah beberapa jam menelusuri hutan Wanagama melalui jalur yang berbeda. Titik Enop, begitu kami sebut tempat ini. Tanpa beristirahat, kita melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak di pinggir sungai sambil mempercepat ritme. Saya berjalan di depan.

Jam di tangan menunjukkan angka 15.50. Wah cukup ngebut juga kita. Nafas saya mulai tak beraturan. "Wah punggungku basah nih," ucap Yandi, mengeluhkan keadaan fisiknya yang belum "jadi".
"Mending kamu basah Yan, aku mandi," ujar saya sambil menoleh. Keringat bercucuran dari kening membasahi muka saya, punggung basah. Tak karuan. Yandi tertawa sambil mendongakkan kepala, khas dirinya.
"Titik Dhika mana sih, Nggra? Bener ini pa?" Yandi memecah keheningan yang belum lama datang.
"Halah, yang Afiq sama Dyaning nyariin titik Dhika itu lho gara-gara engga belok kiri. Kan kita di sini santai-santai pas dua orang itu cari jalur. Eh tau-tau titik Dhika uda di depan."
"Ohh, yang itu. Aku engga santai-santai yo, ngebantuin mereka tau. Berarti udah deket dong. Peluit, Nggra."

Saya kemudian meniup peluit yang menggantung di bahu kiri, tiga kali panjang. Nihil. "Terus jalan aja," Yandi mengkomando. Saya berjalan mengikuti jalur. Belok kiri, konturing. Peluit lagi. Ada jawaban! Seperti mendapat lentera dalam gelapnya gua, kami terkejut. Bahagia. Kami berjalan lagi, menerka arah suara. "Duluan Yan, capek aku." Yandi melangkah di depan, sambil mendongak ke kanan dan ke kiri. Melihat tanda kehidupan. "Peluit," ucapnya singkat. Ada balasan! Entah dari arah mana, kami bingung. Yandi memutuskan berhenti di tanah lapang yang ada di depan, sadel antara dua puncak bukit.

"Berhenti aja dulu, Nggra. Peluit lagi," ucapnya setelah sampai di tempat yang kami tuju.
"Seingatku titik Dhika ini, Yan," seraya menunjuk puncak bukit yang ada di utara saya. Peluit saya bunyikan.
Ada balasan! "Lah itu mereka!" seru Yandi menujuk puncak bukit di selatan kami. Sejak kapan titik Dhika pindah ke sana? Biarlah. Yang penting ketemu.

Kami berdua mendaki bukit dan menemui anggota tim yang sedang foto-foto, sebagian nampak kelelahan. 16.00. 30 menit yang menegangkan dan melelahkan, saya mengambil posisi tidur berbantalkan tas karier. Yandi, dengan hp baru seharga motor, mengambil panorama senja yang indah..bersama pasangannya. PO datang dan bertanya, "Mulai jalan jam berapa e?" 
Yandi menjawab, "Setengah empat."
"Engga mungkin," balasnya sambil menggelengkan kepala tanda tak percaya.
"Serius cuy, emang kalian jalan jam berapa?"
"Dua, gara-gara ada kecelakaan tadi."

Saya teringat dengan rumor kecelakaan itu dan menanyakan detilnya. Ternyata betulan, Aad, Febri, dan Dyaning menceritakannya dengan berapi-api. Brimob menyendiri membelakangi kami, trauma nampaknya. 16.30, kami mencari titik camp berhubung sudah sore. Tempat campnya, tanah lapang tempat saya dan Yandi berhenti sejenak sebelum mendaki bukit. Sial. Penempatan dome berdasar undian. Semua laki-laki tim lama yaitu Yandi, Febri, Dhika, dan saya tidur di Lafuma. Entah kebetulan, entah rekayasa. Saya kebagian masak malam, alhamdulillah. Makanan sudah jadi, makan makanan "eksklusif" kemudian kami membuat api unggun sederhana sambil ToT (truth or truth) alias media curhat ala anak Palapsi. Kami memposisikan diri senyaman mungkin, sambil menikmati taburan cahaya bintang yang menghiasi angkasa ditambah cahaya yang datang dari kota.

Tak terasa sudah pukul 23.55. Beberapa di antara kami sudah tepar, ada yang terlentang maupun tengkurap. Angin malam berhembus menggelayut manja membuat mata kami terlena. PO pun memutuskan untuk menghentikan acara meskipun salah satu dari kami sedang bercerita dengan semangat membara, demi kondisi fisik yang fit esok hari.

Saya bangun ketika matahari pagi sudah menggedor pintu tenda dengan kasar. 05.45. Wah sudah siang. Kami shalat dan mulai masak pagi. Yandi dan saya menjemur pakaian kami berdua, yang lain pun ikut-ikutan. Makanan jadi, menyantap masakan dengan nasi yang melimpah. Alhamdulillah saja lah. Packing dan siap jalan lagi, ternyata saya yang cari titik bersama Novi. Peta pun dibuka, saya kopi tanda-tanda titik yang hendak dituju. Wah daya jelajahnya kecil sekali, pikir saya setelah melihat rute "sesungguhnya". Titik Novi terletak tidak jauh dari tempat kami camp. Sekitar 10-15 menit cukup apabila kemampuan orientasi medan ketika diklat digunakan.

Berhubung Novi tidak ikut diklat tahun 2013, jadi saya minta kadiv dan mantan kadiv menjelaskan dengan singkat. Maklum, saya juga engga bisa. Haha. Alhasil, Novi dengan kemampuan belajarnya yang cepat segera paham dengan bentukan alam. 20 menit berlalu, sebenarnya titik sudah tepat dengan "argumen" yang cukup kuat. Kadiv pun sudah mengiyakan dengan ekspresi nonverbal. Masa 20 menit langsung udah? Novi dan saya kemudian mengecek jalur serta bentukan alam, jadi turun ke lembahan juga naik ke bukit. Setelah melihat dengan cara pandang berbeda, argumen yang dilontarkan Novi pun semakin jelas dan kuat. Well, langsung saja kami selamati keberhasilannya.

Titik berikutnya berlangsung dengan cepat, saya bahkan tidak merasakan sensasinya karena letaknya di pinggir jalan. Kami hanya perlu menyusuri paving dan sampailah di tujuan. Titik terakhir, adalah titik yang sama dengan titik terakhir Dhika Febri tahun kemarin. Hanya saja rute yang kami tempuh berbeda. Tahun kemarin melalui jalur selatan, kali ini utara. Hmm, sama-sama terjal sih. Cuma, kali ini lebih rungkut (lebat) jadi tramontina sempat keluar. Tapi tak banyak gunanya selain hiasan.

Saya melihat ada jalur terbuka apabila ambil lurus tapi Brimob, Aad, Mayang, dan Vivi belok ke arah kiri. Sama-sama lebat, tapi saya liat lurus lebih berprospek. Alhasil jalur lurus itu cukup saya sibak saja. Meskipun lebih terjal, tapi memang berprospek! Saya menemukan jalur hasil bukaan warga setempat (sepertinya), kemudian mengitari melalui kiri. Eeaa, ada Yandi dari bawah muncul tiba-tiba. Dia bilang, jalur yang ditempuh enak dan terbuka. Tapi startnya lebih ke timur lagi dari start tim yang lain. Wah wah, pengalaman memang tidak bisa diremehkan. Mantan kadiv yang satu ini emang punya insting luar biasa, mirip teman kami yang pindah tim demi meraih mimpi ke luar negeri, seperti (sebut saja) Sang Fenomenal.

Baru Yandi dan saya yang sampai puncakan, lima menit kemudian baru menyusul Febri, Dhika, dan Dyaning. Anak-anak lainnya pun sampai tak lama kemudian. Terhambat lebatnya jalur, ungkap mereka. Sama seperti tahun kemarin, puncak yang panas dan matahari yang menyengat, serta upacara. Yap, upacara untuk merayakan tuntasnya semua titik. Cukup jarang, memang. Kami menyanyikan Hymne Palapsi ditemani garangnya cahaya matahari dan terpaan angin. Kami pun turun ke bawah.

Berhubung kecepatan turun kami tidak sama, tim terbagi menjadi 3 kelompok. Saya ada di kelompok tengah. Kami terpencar. PO, yang juga berada di tim tengah, berhenti dan meniup peluit tanda untuk berkumpul. Selang 15 menit kemudian, kelompok depan datang dan kelompok belakang juga hadir. Setelah menyusun formasi jalan, kami menuju Wisma Cendana tempat motor kami terparkir. Satu jam kemudian, kami sampai. Tidak seperti tahun kemarin, kami tidak mampir ke air terjun kali ini. Surut. Air terjun kering, minim air. Saya kecewa. Mantan tim LTMJ pasti kecewa. Yah, takdir alam.

Kami beristirahat di depan Wisma Cendana, tidur-tiduran di jalan raya. Mengabadikan momen dengan kamera dan hape harga motor. Beruntunglah kami, Aad membawa apel untuk bekal. Dyaning membaginya dengan rata, meski sedikit tapi segarnya buah setelah ops sangat melegakan. Kemudian kami sholat di wisma, dan bersiap untuk pulang. PO mengeluh tertusuk duri dan minta tolong agar cewe-cewe membantunya mengeluarkan dari ujung jarinya. Para perempuan lugu pun "terjebak", beberapa menghampiri untuk membantunya. PO tersenyum-senyum aneh. Sepertinya tertusuk duri hanya alasan untuk meraih perhatian saja. Astaga.

Kami pulang. Saya dan Yandi berada di paling belakang. Membicarakan impresi pertama tim gunung ketika FUD ini. Membicarakan proses. Membicarakan kebiasaan tim gunung sebelum-sebelumnya. Membicarakan perbedaan. Membicarakan intrik. Membicarakan alasan dan argumen. Membicarakan keadaan tim. Membicarakan hal interpersonal. Membicarakan Palapsi. Membicarakan tim lama, tim LTMJ. Saya pun merindukan proses dan segala hal yang berkaitan dengan tim LTMJ. Merindukannya. Dengan. Sangat. Hujan rintik-rintik pun turun mengiringi perjalanan pulang seakan membasuh kerinduan akan peristiwa yang tak mungkin terulang lagi.