Tampilkan postingan dengan label ANC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANC. Tampilkan semua postingan

After Credit: Agatha Christie - Murder in the Mews

Pada tulisan sebelumnya, saya telah mengutarakan untuk menargetkan mampu menyelesaikan sekurang-kurangnya 4 buku tiap tahunnya. Meskipun tahun 2017 tinggal 3,5 bulan lagi, keyakinan untuk memenuhi angka tersebut tetap teguh. Hari ini saya telah menyelesaikan sebuah buku karya Agatha Christie, Murder in the Mews. Masih ada 3 buku lagi, minimal, demi mengubah Indonesiaku. Satu buku tiap bulan. Semoga mampu tercapai.

Tulisan ini tidak akan mereview atau merangkum isi novel tersebut, karena teman-teman bisa melihat spoiler-nya di Google dengan fitur search, namun berfokus pada impresi yang muncul usai membaca novel tersebut.



Murder in the Mews sendiri terdiri dari 4 kisah berbeda, yaitu: Murder in the Mews, The Incredible Theft, Dead Man's Mirror, dan Triangle at Rhodes. Semua kisah tersebut menceritakan peristiwa yang dialami oleh Hercule Poirot, seorang detektif swasta berkebangsaan Belgia yang menjadi tokoh utama dalam hampir di setiap karya Agatha, serta bagaimana 'sel otak kelabu'nya bekerja untuk menyingkap tabir kasus yang menaungi tiap kisah tersebut. Novel ini mampu menangkap perhatian sang pembaca untuk fokus kepada tindak-tanduk Poirot yang unik, tidak lazim, dan terkadang mengesalkan tokoh-tokoh lainnya. Berbeda dengan detektif legenda yang mahir dalam ilmu forensik, Sherlock Holmes, Poirot menggarisbawahi analisis berdasarkan reaksi psikologis yang muncul pada tiap kasus tersebut.

Saya sungguh menggandrungi kisah-kisah detektif. Memang pembahasannya seringkali memunculkan sakit kepala, namun saya tidak bisa memungkiri bahwa kisah detektif adalah candu bagi otak saya. Meskipun analisis saya telah terlatih oleh bacaan-bacaan detektif lainnya, tetapi nyatanya saya masih 'gagal' dalam menebak alur tulisan Agatha ini. Di Murder in the Mews, hasil akhirnya tak terkira. Tidak ada clue yang saya temukan untuk membantu memecahkan kasus tersebut sebelum mencapai akhir cerita. The Incredible Theft, Agatha mengarahkan pembaca untuk mencurigai seorang wanita cantik sebagai pencuri, ternyata terungkap bahwa ia hanya agen negosiasi negara asing. Dead Man's Mirror, konklusi yang muncul cukup membingungkan karena tidak ada satu petunjuk pun yang dapat saya temui untuk mengarah pada pelaku sebenarnya. Bisa jadi karena saya kekurangan petunjuk visual, sebagai penunjuk yang konkret, karena hanya mengandalkan visualisasi dari tulisan yang ada. Kisah terakhir, Triangle at Rhodes, pada awalnya saya kira akan membosankan karena pelakunya telah tertebak di tengah cerita. Siapa sangka jika tokoh tersebut hanyalah komplotan pelaku utama pembunuhan dalam kisah ini.

Agatha sejak dahulu telah didapuk sebagai The Queen of Crime, dan saya makin mengerti mengapa nama tersebut sungguh melekat padanya. Balutan kisahnya penuh misteri dan memiliki 'lapisan-lapisan kenyataan', dimana meskipun kita mampu mengupas sebuah layer misteri itu, ternyata masih ada lapisan-lapisan yang membungkus kebenaran yang ada. Situasi seperti ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan realita di sekitar kita. Meskipun kita mampu menguak sebuah peristiwa, namun bisa jadi masih ada lapisan-lapisan lain yang tanpa diduga mengaburkan kita terhadap kebenaran hakiki.




Mendongkrak Peringkat Perilaku Literasi (Literacy Behavior) di Indonesia

Mendongkrak Peringkat Perilaku Literasi (Literacy Behavior) di Indonesia
Based on research (tentu saja yang saya temukan di internet),  seseorang pada umumnya mampu menyelesaikan 4 buku dalam waktu satu tahun. Masalahnya, angka ini adalah angka mean, alias rerata orang-orang dengan kultur dan motivasi membaca yang beragam. Artinya apabila di dalam suatu daerah di dunia memiliki angka rerata 8 buku per tahun, maka ada pula daerah lain yang masyarakatnya tidak menyelesaikan buku sama sekali dalam waktu satu tahun tersebut.

Saya, sebagai orang Indonesia, patut khawatir dengan diri saya sendiri.  Flood (2016) mengutarakan bahwa berdasarkan berbagai pertimbangan, Indonesia menempati urutan ke-60 di dunia dalam "Perilaku Membaca dan Dukungan Sumber Bacaan". Well, peringkat 60 sedunia tentu tidak buruk mengingat ada lebih dari 180 negara di dunia. 

Guess what? Peringkat 60 tersebut mampu kita dapatkan hanya dengan mengalahkan statistik dari satu negara saja. Dengan kata lain, hanya ada 61 negara yang menjadi sampel penelitian tersebut! Dengan kata lain dari sebelumnya, Indonesia mendapatkan peringkat nomor dua dari belakang dalam perilaku literasi. Hasil ini mengindikasikan bahwa angka 93% populasi Indonesia yang mampu baca tulis tak dibarengi dengan aktivitas membaca serta perilaku terkait literasi lainnya. Merujuk pada angka yang muncul pada awal tulisan, seandainya rerata tiap orang di dunia menyelesaikan 4 buku per tahunnya, maka rerata Indonesia bisa jadi kurang dari 3 buku tiap orang per tahunnya atau malah bahkan tak ada satu bukupun yang diselesaikan! 

Lalu apa? Memangnya kita bisa apa untuk mengubah Indonesia yang sebegini besarnya? Saya pun tak punya jawaban yang dapat menyelesaikan seluruh problemnya. Yang saya miliki hanyalah satu keyakinan sederhana: menyelesaikan lebih dari 4 buku tiap tahunnya untuk mendongkrak statistik perilaku literasi Indonesia. Lho, memangnya perubahan satu orang saja mampu meningkatkan angka rerata 250 juta orang lainnya? Tentu saja, meskipun hanya nol koma nol nol sekian. Saya percaya progress sekecil apapun dapat berpengaruh pada hasil akhirnya kelak. Memang, sembari membaca buku lebih banyak, perlu dicari solusi yang lebih besar dampaknya bagi khalayak umum. 

Yang jelas, daripada hanya menyalahkan keadaan dan kondisi orang-orang di sekitarmu, lebih baik kita melakukan sesuatu, bukan? Mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang.

Yuk baca buku! 


Referensi
Flood, A. (2016). The Guardian. https://www.theguardian.com/books/2016/mar/11/finland-ranked-worlds-most-literate-nation Retrieved at 12 Sept 2017.

That Fear

That Fear
I. Am. Afraid.

Since I have been here, there is one thing that bugs me most of my time. It is abstract, and that is the main reason of its indestructibility. A form of an idea can not vanish without trace. While it disturbs me like an pop up tab in a web browser, it makes me awake and conscious. There is something wrong with the place I was born. 

And that fear comes true. Well, not suddenly comes true, but based on the prediction it has substantive and enormous probability to occur in the social environment. You might say that it is a product of fear, an anxious feeling of the future, and that might be true. However, I do not see any critical evidence that prove the opposite.

The country will have immense friction. It might not be a weaponised conflict, or not yet. It will start, and already started, with a technological "weapon". Few of us will start to debate something based on its identity. They (or we) will try to distinguish between correct and wrong, and most likely anyone that is having different vision from us will be labelled as "wrong".

Unfortunately, that was not the most scary thing that I feared the most. The thing is when we actually in the wrong side, we still prove our correctness by using the mass effect. Quantity over quality. The country that at a time was using "musyawarah mufakat" or discussion and compromise as a foundation to pursue decision, now debate over everything and try to prove individual superiority. The debate itself is useful at some point, but frequently the "wrong-that-debate-everything-based-on-personal-opinion-but-do-not-want-to-accept-defeat" will eventually attack the identity of the opposite side. And, the scariest thing is, it works.

Technology development and advancement is like a knife. For a chef, it is a significant equipment to create an art. For a murder, it is a weapon to kill - but well, everything could be a weapon for them, even chopstick or pencil. In regard to this analogy, there is an obvious major distinction between the two and several slight differences. One of that differences is to become a chef, someone will need a proper training and knowledge, while for the other it is not needed. Therefore, we need a large number of "chef trainer" to train the people to use the tool correctly in the safe way and indirectly minimise the probability of increasing number of murderer.

The First for Everything

The First for Everything
Being a newcomer could cause stirred feelings inside us. It is a fascinating, exciting, but confusing or even overwhelming circumstance. We can be enthusiastic, yet worried the outcome discouraging ourselves even more. 

The fear of doing something based on our own thoughts or consideration called mental block. Basically, it is a natural survival instinct to protect us from any potential risk which might be threatened ourselves. The lack of our understanding of the state, anxiousness, fearfulness, and the drive to be safe build a thick barrier that prevents crossing action. A frightening well-known nature we need to be wary of, mental block grows over time which implicitly means it will be harder to overcome.

We always have two options, face the mental block and cope with the horror or avoid the position and be safe in the comfort zone. While all of us know breaking the mental block is the only way to live comfortably, it is easier said than done. We may suggest others face the challenge, but hardly have the courage to solve our problems. Run and wish never deal with the terror is an intense tempting alternative but escaping problem will only suspend it from reoccurring again and again. Nevertheless, forcing ourselves to take a small step continuously to pass the barrier is a reasonable long-term solution.

Everything we can do was nil at the beginning. Our actual skill was only a potential at one point and will always be unless we boost ourselves. However, we can list abundant things now because of our previous effort. Trying something then failed is natural, but we never gave up. As an ordinary person, not a special snowflake, I kept telling myself that flunked on the first try is normal. Even so, a significant self-improvement should develop upon every failure.

A new condition might horrifying and escape from a potential risk element is a tempting alternative, yet dealing with the situation is the better -but more challenging- choice to overcome the problem. There always be the first time for everything. Giving up before even trying not only postpone individual's growth, but also the world's since its improvement totally depends on the people.

By the way, this is my first post in February.

Bertemu

Bertemu
Love, the burgeoning sector in young adulthood phase of human development, was the only important and interesting thing in the early third semester.  I tried to build a relationship after my ex dumped me all of a sudden in the first semester, but none succeeded. There was two or three candidate, but one was too bland while another frequently broached sensitive matters. I did not mention the others that did not have any interest with me. However, life must go on. I was a wanderer that looking for a peace.

She was the one. She, the one that ended our relationship before we even started, indirectly instilled her life principal to me. But she was the past, only a history. And I did not want to enlarge the wound that she made.

My mind wandered through the past. The ex, the girl that I liked, the girl that I secretly admired, and so on and so forth. The details of the situations were repeated like a record in my brain. It kept going on for days. I could not concentrate on the course (since when I even concentrate on one?). But, poof, suddenly they were gone. I saw you.

I found you, you the one that I saw in the public lecture. You that gave a strong first impression to me, but I could not find you anywhere I look. I was frozen for a while. You walked past me and sat on the back of the class. It was an Industrial and Organization Psychology class. Finally, I found you and I could jump for joy.

Wait, I did not know you, neither you were. What if she already had a boyfriend? What if she did not like me at all? What if, what if, what if. Okay, just go with the flow, I had to make it smooth and slow. Maybe, just a friend? Yes, moving on to "friend" from two strangers was the choice that I made. I wanted to know more about you but slowly, so nobody will get hurt.

I kept quietly watching you throughout the day.

Kita

Kita
It was the second semester. You rushed into the hall, afraid being late, to attend the public lecture. We never met before and I did not know you at all. I believe you had no idea who am I at that time. You captivated me in the first glance and that moment just stuck in my head all this time. For the next an hour and half during the lecture, I was searching the cheerful slender good-looking girl with a pair of pale pink glasses within the hall. I could not find you.

In my perspective, you did not know me and did not even bother to know me. Why should you know me? I won't give you any benefit. Did I give you enough impression to make you remember myself? The answer was certain, absolutely no. I kept thinking about it all day long. I did not know your name and I was too shy to ask somebody who probably knows. I smiled, trying to accept this situation, and treasured the moment about you.

We were so close, yet so far. I searched for you, but you did not realize being sought. It was not hide and seek, since you were not hiding, we just had a whole different world. I could not easily entered your world, while you never walked across my world. I would stalk you like a madman, but I did not know your name. Searching your account by your face was too hard since it will took abundant amount of time.

The "click" moment just happened once in this semester, when I saw you in the hall. I believe, if we really meant to be with each other, there will be another "click" moment . However, it did not occur in this 3 to 4 months. Well, I thought this is it then. I have to move on.

Premonition

Premonition
Have you ever been in a spine-tingling situation and the whole world tried to warn you before? And a moment after the situation you realized that the universe gave you signs to make you escape it? And then you realized that every choice you took could either save your life or turn it into an everlasting misery?

Well, I did.

I was in the middle of the way back trip after a thrilling adventure in a phenomenal cave. Unfortunately, my bike slipped. The driver of the bike jump off to the side, while I was thrown to the front. I cheated the accident and walked away without serious injury, but both of my knees got wounded. Still, if you witnessed the sound, the thrown distance, and the situation, you could say that both of us own tons of luck.

The interesting part is, I have a hunch that this accident is going to occur. However, I have no idea when, where, and how will it happen. As long as I remember, I saw the same community service ad for 3 to 4 times which tell us to make sure we wear the helmet correctly. It is odd. I rarely seat on the back when I ride motorcycle, but when I do I always enjoy the scenery and the surroundings. However, that ad message stuck in my head all day long. So, I always checked my helmet's safety. One choice that save my life.

Our team consisted of 4 member, including myself, which one of us had to carry a carrier bag. It filled with our equipment. Do not ask me how heavy was it. Firstly, I asked my junior to carry that bag, but she almost collapsed in the middle of the way. She got a headache and nausea, so we stopped at a shop and bought food. I can not grasp the cause of her sickness, was it from her body condition or the heaviness of the bag? Therefore, I decided to carry the bag along the way. Eventually, believe it or not, the bag is one of the factor that save me from severe back injury. When I was thrown away, the bag hit the road first then I rolled over and the bag was the one that stopped me from rolling any further. One choice may save your life, indeed.

I could speak the choices I took that kept me alive for day-and-night. But the thing is, every time you get a hunch about something, please think it over and be careful. It could be the world trying to warn you of the future. It could be the message from the universe for your own good. It could be an alternative that might save the life.

Padusan Merapi (15-16 Juli 2012) 3 : Tektok, Tiktok

Posting pertama saya di tahun yang baru, berharap mendapatkan pengalaman bertualang lebih sering lagi dari tahun sebelumnya. Happy new year buat kamu dan semoga kesuksesan serta kelancaran dalam setiap aspek hidup selalu mendampingimu. Sejujurnya tulisan ini sudah dirintis sejak Desember 2015, namun berbagai hal terjadi sehingga terbengkalai (lagi) hingga saat ini. Selamat membaca.

* * * * *

Pendakian dimulai. Kami sadar waktu kami tak banyak. Merapi memang gunung yang memungkinkan untuk didaki "tektok", maksudnya mendaki kemudian turun di hari yang sama. Ini pendakian tektok yang tak direncanakan. Kami harus naik dan turun dalam kurun waktu tertentu, lebih cepat sampai bawah lebih baik mengingat cuaca Merapi yang tak menentu dan tak pernah tentu.

Tim melaju dengan cepat. Bahkan sebelum menyentuh pos 1, kami terbagi menjadi dua. Kanji, Gakros, dan saya ada di belakang. Bisa jadi karena isi tas kami yang terlampau penuh, atau juga teman-teman di depan yang berstamina "kewan". Sepertinya alasan pertama hanya berlaku bagi saya saja karena sebutan "kewan" sangat tepat untuk mendeskripsikan ketangguhan mereka dalam kegiatan pendakian sebelum ini.

"Gaak! Gaak!!" suara Toyo sayupsayup memanggil Gakros sebelum kami mencapai pos. Arah suaranya dari samping kiri, tapi tak tampak pergerakan mereka.
"Ngopo? Nengdi we?" balas Kanji cepat, sadar bahwa mereka mengambil jalur yang tidak umum.
"Iki arahe ngendi ya?" suara itu terdengar kembali, kini lebih dekat.
"Tutno suaraku wae!" Gakros yang enggan menyusul tim yang tersesat kemudian mengambil langkah naik, menggunakan jalan yang benar.

"Ngopo Gak?" tak disangka-sangka, muncul satu sosok di balik batu besar yang akan kami lewati. Samcong.
"Lah kok kowe neng kene e Cong?" ujar Kanji, ada sedikit nada terkejut di dalamnya.
"Mau aku ditinggal og, telo. Terus aku asal munggah wae."
"Woi, nengdi do an kih?!"
Srek, srek, srek. Tiga pasang langkah kaki pun mendekati kami. "Kene, Gak," jawab Kombir singkat.
"Kok iso tekan kono e?"
"Ha Toyo ki sing milih dalan ra cetha tenan og," umpat Ibeng.
"Lha ketoke dalane mung kuwi kok."
"Wes, wes gek ayo wae. Selak awan," saya pun angkat suara sembari mengumpulkan tenaga dan nafas.

Pendakian Merapi memang tidak membutuhkan waktu banyak. Rata-rata 2-4 jam, pendaki sudah bisa mencapai Pasar Bubrah setelah melalui jalan menanjak dan berpasir serta berdebu akibat sisa abu vulkanik.

"Jalur Kartini ki Gak?" tanya Kanji.
"Ho o."
"Do sipikan ae dab, aku tak leren. Ra kuat aku," rintih saya di tengah medan super nanjak dengan bebatuan vulkanik yang berfungsi sebagai pijakan.
"Halah sithik meneh iki nanjake mungan," jawab Toyo.
"Iyo, dhisikan ae. Kesel tenan dab," ucap saya dengan gaya rukuk, demi menarik oksigen lebih banyak ke dalam tubuh.
"Yawes leren dhisik wae," Samcong pun iba melihat wajahku yang tak karuan. Merah legam, bercucuran keringat, serta nafas tak beraturan.
"Ngemil sik po?" sahut Ibeng seraya meraih tasnya.
"Ora sah, mlaku wae yo. Ning tak alon-alon ya."

Tanjakan berbatu telah sukses kami lewati hingga kami menemukan jalur landai sebelum Pasar Bubrah. Saya masih ingat betul, spot ini adalah titik penyesalan saya beberapa tahun lalu ketika mendaki Merapi untuk pertama kalinya. Saya menyerah di titik itu karena kelelahan, akhirnya saya dan seorang rekan mendirikan tenda di situ sedangkan yang lain lanjut summit attack. Kali ini  pun saya juga tidak berkesempatan muncak. Pahit.

Anggota tim nggeblas menuju Pasar Bubrah, karena memang areanya sudah dekat. Tinggal melewati satu punggungan saja. Tinggalah saya di belakang menapak perlahan ditemani Kanji. Meski jalur tidak semenanjak tadi, tetap saja fisik yang lemah ini tertatih-tatih. Alhamdulillah saya tidak terlalu banyak membuang waktu tim. Saya pun sampai ke monumen in memoriam. Pasar Bubrah telah terlihat.

"Ayo Pak, wes tekan," ujar Gakros menyemangati. Saya pun mengangguk saja.

Toyo langsung berlari ke arah area landai dan lapang tersebut, diikuti Kombir, dan Samcong. Kami berempat berjalan santai saja, menghemat tenaga. Kisaran pukul 11.30 kami sampai di Pasar Bubrah. Kami langsung menata matras untuk duduk, menyiapkan peralatan masak dan bahan-bahan masakan, serta mengeluarkan cemilan. Kombir dengan sigap menggelar ponco, yang kemudian ia gunakan untuk berbaring. Begitupun Toyo, ia mengeluarkan matras dari karier Gakros demi mendapatkan tempat tidur yang lebih nyaman di atas bebatuan.

"Yo, masak yo."
"Kokine ora kaya biasane wae pa?"
"Sopo?"
"Gakros karo Anggra kae."
"Yowes ngono wae."
Saya hanya bisa menghela nafas ketika mendengar percakapan itu, namun sudahlah toh saya juga senang masak-masak kalau sedang pendakian. Bahan masakan yang tersedia saat itu hanya Indomie, beras, telur, dan sedikit sayur mayur. Sembari kami menyiapkan makanan dan ngemil roti, beberapa anggota memutuskan untuk berfoto-foto di tempat yang dominan warna putih ini.

"Jane sithik meneh wes tekan lho iki. Gari munggah kono wae ta?" ujar Kombir.
"Bahaya Mbir, sesuk meneh wae. Wong Merapi ra nengdi-nengdi," balas Kanji.
"Yo rapopo kok Mbir munggah wae, wes tekan kene lho," sahut Ibeng memanas-manasi.
"Iyo munggaho Mbir, tapi tak tunggu kene wae ya. Aku wes tau kok," Gakros tak mau kalah mengompori.
Sadar dipanas-panasi, Kombir pun mengurungkan niatnya.
"Ah aku tekan kene wae wes seneng kok," ucap Toyo.


"Sholat dhisik po?"
"Ayo wae sih, mie ne wes rampung kok. Gari nunggu endhog wae," jawab saya.
Kemudian Gakros mengambil alih tugas perkokian dan mengeluarkan kemampuannya mengolah telur.

Hening. Sunyi. Tak ada sepatah kata pun yang terucap, tapi ratusan doa kami panjatkan. Demi diri sendiri, demi masa depan, demi keselamatan kami dalam pendakian.

Gakros shalat setelah kami usai dan menggunakan sarung yang dibawa Samcong. Kemudian kami pun menyantap makan siang yang kalau boleh jujur, terasa aneh di lidah dan ada sensasi berbeda akibat eksperimen Gakros ketika kami tinggal beribadah tadi. Meskipun sederhana dan rasanya tidak familiar, tetap saja terasa lezat karena dibumbui dengan kebersamaan dan cerita pengalaman masing-masing di dunia kuliah. Tidak lupa kami mengambil foto tim pendakian kali ini.

"Ayo siap-siap mudhun."
"Mager e, dab. Tak turu-turu sik," jawab Kombir.
"Welha selak kesoren mengko tekan ngisor."
"Mbok santai wae, mumpung wes tekan kene," tambah Toyo.
30 menit kemudian.
"Yo mudhun yo, gek cepak-cepak."
"Sesuk aku bakalane mbalik rene njuk menggapai puncakmu, kok Merapi. Tunggu aku."

Jam 3an kami memutuskan untuk turun agar sampai basecamp sebelum hari gelap. Sudah cukup lama kami bersantai-santai dan bercengkrama serta mengambil berbagai foto di Pasar Bubrah. Perjalanan kami mulai dengan pelan, enggan berpisah dengan pengalaman pendakian kali ini. Sampai di monumen in memoriam, kami melihat pemandangan indah di depan kami. Akhirnya prosesi foto-foto pun tak terelakkan.

"Ojo nganti kepisah lho ya, iki jalure beda karo sing mau." Kami berjalan turun menggunakan jalur alternatif, menghindari jalur biasa (Jalur Kartini) yang memiliki tanjakan terjal. Jauh lebih berdebu memang, tapi lebih landai dan yang penting bisa gaspol. Kami pun sampai di bangunan mirip pendopo sebelum Maghrib. Di sana kami bersantai, beradu hinaan dan meneguk air yang tersisa.

Kami sampai di New Selo jam 6 lebih. Hari sudah gelap, badan sudah lelah, namun kami bahagia. Rasa kecewa tak dapat mendaki kemarin terbayarkan, rasa rindu akan pendakian bersama sahabat pun terpuaskan.

Padusan Merapi (15-16 Juli 2012) 2 : Entah Kudu Seneng Apa Mangkel

Tulisan part 2 dan part 3 adalah lanjutan dari kisah pendakian di tahun 2012, yang ditulis kembali oleh penulis di tahun 2016. Selamat menikmati.

* * * * *

Mentari pagi mulai menggeliat naik ketika kami tersadar dari tidur nyaman kami. Udara dingin dan cuaca yang cerah pada 16 Juli 2012 seakan mendukung kami untuk mengeratkan sleeping bag kemudian kembali pada mimpi indah. Saya pun enggan beranjak, namun hati yang tak tenang karena tidak ada kepastian ijin pendakian membuat saya tak mampu tidur dengan tenang. Entah dengan yang lain. Sepertinya mereka nyaman-nyaman saja dengan tidurnya.
Merbabu

"He, kae pemandangane apik lho," ujar Kanji yang baru saja dari luar. Si Boss Ketua OSIS ini nampaknya memang tidak punya syaraf rasa dingin, sepagi itu ia telah jalan-jalan keluar hanya bermodalkan kaos dan celana training.

"Tenane, Nji?" balas dua orang pemburu foto profil pemandangan, Toyo dan Kombir. Sontak keduanya langsung keluar, tentu setelah memakai sweater dan kaos kaki. Samcong pun ikut mencari panorama.

"Pie, dab? Munggah ora penake?" sahut Gakros dari dalam sleeping bagnya.
"Manut. Munggah ndi emang?" balas saya tak bersemangat sembari njingkrung seperti kepompong.
Tak membalas, Gakros beranjak mencari basecamper untuk meminta masukan. Enggan bermalas-malasan, saya mencari peralatan masak dan mulai membuat minuman hangat.

"Ra wani ngeculke dab," Gakros menerangkan bahwa warga tidak berani memberi ijin kami untuk naik, "kene tak gawekke wae, kowe masak."
"Berarti Merbabu?" saya sungguh ragu untuk mendaki jalur yang saya tak pernah lalui tanpa persiapan matang.
"Manut cah-cah," jawabnya, meskipun sebenarnya itu bukan jawaban juga.

Teman-teman yang ada di luar nampaknya kembali masuk karena tahu ada minuman hangat yang telah tersaji. Tetapi tak lama, karena mereka keluar lagi dengan tampilan yang sudah dipermak untuk mendapatkan foto-foto bagus.Saya bergegas meracik bumbu untuk masakan. Nasi dan tempe adalah bahan sarapan kami, "Ah yang penting makan, masalah rasa belakangan," ucap saya pada diri sendiri.
Hunting foto

"Pie penake?" tanya Gakros pada tim.
"Merbabu wae mbangane ra pasti," kata Toyo tak sabar.
"Emang Merbabu mesti oleh?" balas Ibeng.
"Emang ana sing paham Merbabu, ojo nekat lho Beng," Kombir menimpali dengan nada khawatir.
"Ho o lho, ngko malah rasido seneng-seneng," Samcong pun mengamini.
Kami pun hening. Rencana untuk hepi-hepi berujung ketidakpastian. Mungkin diberi harapan palsu oleh perempuan jauh lebih pasti daripada nasib kami. "Ngene ae Gak, coba tok kontak kancamu meneh. Takok Merbabu kaya pie detile," Kanji pun angkat suara.
"Angger Gakros wani aku sih wani wae, karo madang ki," ujarku seraya mengoper jatah makanan.
Berunding

Agaknya keresahan kami sedikit terobati seiring karbohidrat dan protein mengaliri kebutuhan nutrisi. Ditambah lagi adanya pendaki lain yang hendak naik Merapi namun urung dan mengganti tujuan. "Yawes Merbabu wae. Yuk packing, cepak-cepak sik," tegas Gakros setelah bimbang sekian lama. Kami pun membagi tugas, Samcong dan saya cuci-cuci peralatan masak; Toyo, Kombir, Ibeng, dan Gakros menyusun peralatan serta menyiapkan kendaraan; sedangkan Kanji foto-foto (engga ada yang berani memberi perintah pada bos yang satu ini).
Mengisi perut, mengurangi keresahan
Sungguh. Satu pembelajaran penting yang saya dapat ketika di sini adalah, memasaklah dengan minyak atau margarin kalau pakai nesting. Jika tidak, sisa-sisa nasi banyak yang mengeras di pinggir-pinggirnya hingga jadi intip. Mau digosok-gosok seperti apa, tidak mau lepas jua dari nesting. Merk sabun cuci apapun agaknya kalah ampuh. Hanya kesabaran yang mampu menaklukannya.

"Wes ah, Nggra. Mangkel aku. Iki liyane tak angkut mlebu ya," ujar Samcong, jengah dengan cobaan hidup yang satu ini. Saya tak patah arang, tak sudi diperdaya oleh nasi kering di pinggiran nesting.

"Yo, wes siap iki!" Toyo memanggil kami untuk berkumpul. Tas sudah rapi, alat sudah bersih, kendaraan sudah siap. Bahkan mungkin sudah dipanasi 15 menit lebih. Terlihat Pak Basecamper (engga tau siapa namanya) berjalan-jalan keluar dari rumah. Kami acuh saja, cukup menyapa kemudian melanjutkan siap-siap, bingung mau menanggapi bagaimana.

"Pie, sidane Merbabu?" tanya Kombir sembari metingkring di atas motor.
"Lha pie meneh," balas Ibeng.
"Yoweslah."

Tujuh orang lelaki yang dirundung keraguan, kini telah bersatu padu menemukan semangat baru untuk mendaki gunung tetangga, Merbabu. Berdasarkan prakiraan, kita akan sampai di puncak sore hari. Apabila memungkinkan kami kebut pulang malam ini juga, namun rencana cadangan kami adalah pulang esok hari ketika stamina telah prima. Karier kami angkut, barang-barang kami tenteng, helm sudah kami pasang rapi, tinggal nangkring di atas kendaraan dan melanjutkan perjalanan. Merbabu, kami akan mengunjungimu. Berilah kami sambutan terhangat.

"Pak, badhe pamit riyin nggih. Matur nuwun," ucap Gakros penuh unggah-ungguh berpamitan dengan pemilik rumah.
"Oh, nggih. Lha badhe teng pundi niki? Balik Jogja?"
"Mboten pak, badhe Merbabu. Lha tanggung pun tebih-tebih mriki."
Sang empunya rumah terdiam sejenak. Mengernyitkan dahi. "Nggih mpun mas nek badhe minggah Merapi monggo mawon, ning ngantos Pasar Bubrah mawon nggih."

Kami terhenyak. Terkaget-kaget. "Saestu niki. Menawi jenengan minggah malih jelas mboten aman wong niki pun siaga." Gakros memandang tim satu per satu seraya menunjukkan ekspresi "pie iki??". "Iya pak, terimakasih," sahut Kanji segera, sebelum beliau berubah pikiran.

"Ngopo?" tanya Kombir pada saya.
"Bapake ngolehke munggah Merapi, ning mung tekan Bubrah," jawab saya.
"Lha asem, ngopo ra ket mau," balas Ibeng.
Iya juga sih. Kami sudah terjaga sedari Subuh tadi dan beliau sebenarnya juga tahu. Ada banyak kesempatan baginya untuk memberi kami ijin. Ketika hunting foto, ketika membuat kopi, ketika memasak, ketika makan, ataupun ketika bersiap-siap. Kenapa ia harus memilih momen paling buruk? Momen di saat kami sudah teguh pendirian hendak berpindah ke lain hati. Momen ketika kami telah yakin tak mampu bersua dengan orang yang tadinya diharapkan. Momen di mana orang yang pernah kita sukai memberi sinyal cinta, namun waktunya sudah tak tepat lagi. Entah harus senang apakah dongkol.

Gakros pun berjalan kembali ke arah tim seraya bertanya, "Pie iki? Merbabu puncak apa Merapi Bubrah?"
"Merapi puncak ra oleh Gak?"
"Jo ngawur Nji, wong lagi siaga jare kok," sanggah Toyo. Ada benarnya juga, mengingat hujan abu semalam.
"Aku yo mung takon kok, Toy. Hmm, yawes manut ae. Merapi yo rapopo wong niate munggah kene kok."
"Aku ra masalah endi wae, sing penting seneng-seneng kok," Toyo menambahkan.
"Aku yo ho o."
"Melu-melu e Beng!"
"Ha kok nyenthe e Cong, lahloh ae."
"Yowes nek do ora ono sing keberatan, Merapi wae ngko sore mudhun. Pie?" ujar Gakros menyimpulkan.

Tentu saja tak ada yang keberatan. Orang-orang ini semua pernah mendaki dan memuncaki Merbabu, meskipun melalui jalur Wekas. Bagi mereka, pilihan Merbabu Selo ataupun Merapi Pasar Bubrah adalah perkara mudah. Bagi saya yang gagal memuncaki kedua gunung ini, mendaki Merapi namun hanya Pasar Bubrah merupakan pil pahit ibarat tradisi yang terulang. Ah, sudahlah. Toh niat saya bersenang-senang bersama teman-teman SMA setelah jemu berkutat dengan penatnya proses perkuliahan.
Mbuh pie carane, bongkar!
"Gek uwes, Nda!"
Entah dari mana istilah "Nda" ini, apakah nama orang ataukah dari film, saya juga lupa. Akan tetapi setahu saya, fungsinya menggantikan sebutan panggilan orang lain.
"Kosek, Nda. Ewangi nata motor ki lho."
Motor yang tadinya telah siaga dengan gagah di pekarangan, diparkir kembali. Tas yang sudah terpacking rapi, diudal-udal tanpa ampun. Barang-barang yang tak diperlukan, dikumpulkan jadi satu di pojok ruangan.

"Gak, tenda pie?"
"Guwang ae."
"Tenane?"
"Iyo, ngko Anggra ben dadi pawang udan, mbuh pie carane."

Saya terkekeh mendengar percakapan tersebut. Jujur saya khawatir juga. Tenda tak dibawa. Alat masak hanya seperlunya. Sleeping bag pun ditinggal. Muatan yang tadinya 3 karier dan 4 ransel dipress menjadi 2 karier dan 3 ransel plus satu tas selempang. Peralatan tim dan konsumsi kemudian dibagi rata ke karier Gakros dan saya serta ransel Ibeng, Samcong, dan Kanji. Saya mengingatkan untuk tetap membawa mantel atau ponco demi alasan safety. Saya pun diam-diam mengangkut sleeping bag dan peralatan rescue ke dalam karier. Setelah berbulan-bulan dibiasakan, rasanya tak tenang kalau mendaki tanpa prosedur safety yang sesuai.
Bersiap berangkat
"Kanji nggowo banyu, konsum karo peralatan kamera. Samcong nggowo banyu karo ponco. Ibeng nggowo banyu karo cemilan lengkap. Lah kowe nggowo opo e, Toy?" sindir Kombir yang melihat Toyo hanya membawa sebuah tas selempang yang entah apa isinya itu.
"Menengo su. Ngoco!!" balas Toyo. Yah Kombir memang tidak membawa apapun kecuali pakaian yang menempel dan sweater yang dikalungkan ke lehernya.

"Pemanasan sik Gak!" perintah Kanji ketika kami hendak berjalan naik. Tak berani membantah dan demi alasan keselamatan, kami pun pemanasan dan peregangan meski hanya sebentar. Maklum saja, niatan awal kami adalah camp di gunung dan bermalam di atas. Wajar saja kalau kami tak sabar mengejar impian yang sudah pasti tak mungkin terealisasi.

Usai pemanasan, kami berdoa memohon keselamatan dan kelancaran pendakian. Mendaki di tengah Merapi sedang siaga memang nekat, namun kami tetap berusaha menyadari batas-batas kemampuan kami tanpa menantang maut. "Yo munggahe alon wae, ojo ninggali. Ngko nek ana sing kesel gawa tas ben Toyo karo Kombir genteni."
"Wegah aku."
"Su e Toy!" balas Ibeng.

"Wah foto sik iki penake," ucap Kanji lirih, mungkin pengingat untuk dirinya sendiri. Akan tetapi setiap perkataannya bak komando, titah yang tak terpatahkan.
Akhirnya....

Padusan Merapi (15-16 Juli 2012) 1 : #PrayFor33

Percaya tidak percaya, ini adalah tulisan yang sebenarnya hendak saya publikasikan di tahun 2012. Akan tetapi berhubung ceritanya panjang, saya pun tak sempat melanjutkan tulisan. Akhir tahun 2016, saya mereview ulang blog dan kemudian menemukan tulisan ini. Belum tuntas, hanya setengah jadi saja. Oleh karena itu, tulisan ini akan saya lanjutkan namun dibagi menjadi 3 chapter. Kenapa harus 3 chapter? Tidak ada alasan spesifik, hanya soal kenyamanan saja. Saya yakin pembaca dan diri saya sendiri tidak terlalu suka tulisan yang terlalu panjang dan ngalor ngidul. Maka dari itu, ngalor ngidulnya tidak saya jadikan satu, melainkan tiga.

* * * * *

"Pak, ayo munggah merapi." sms dari Mada, yang biasanya dipanggil Gakroso, hinggap di nokia 101 ku. Lho kok dipanggil 'Pak' sih? Ya itu semacam cara manggil aja di angkatanku SMA, istilahnya kayak pake kata 'Bro' dan sebagainya gitu.

Hmmm, iya ya uda lama juga aku ga mendaki bareng anak-anak SMA. Sebenernya mereka sering ngadain pendakian gitu tapi karena kesibukanku sebagai akademisi di kampus yauda aku biasanya nitip salam aja. Wah tapi uda sebulan lebih ga nggerakin badan nih, gimana ya? Well, setelah 'Menuju Puncak Kenikmatan Nan Barokah Di Negeri Pasundan' (FUD), aku 'balas dendam' dengan males-malesan dan nyantai-nyantai. Tapi ajakan ini akhirnya kuiyakan mengingat aku belum pernah muncak Merapi.
Gakros
Singkat cerita, 14 Juli terkumpullah lima orang lainnya yaitu Yoga  (Kanji), Ridhwan (Ibeng), Tito (Toyo), Mahfudz (Samcong), dan Yodha (Kombir). Pendakian ini tadinya nyaris ga jadi, setelah Gakroso kesleo dirumahnya. Tapi karena lemahnya alibi dan engga ada saksi, alasan itu gabisa diterima yang lainnya.
Kanji

Pendakian Merapi ini semacam nostalgia, sebelumnya dua tahun lalu kami pernah berkunjung ke Merapi dengan personil yang berbeda. Saat itu adalah pendakian pertamaku, tapi karena keterbatasan stamina aku gagal muncak. Bagi Gakroso sendiri, pendakian Merapi ibarat padusan atau ritual membersihkan diri yang biasa dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Dan aku nulis ini bukan sebagai catatan perjalanan yang ditujukan buat 'membantu' penikmat alam lainnya, tapi cuma untuk pengingat momen-momenku saat di Merapi aja.
Ibeng

15 Juli, kami janjian kumpul di Angkringan UII di Jl. Kahar Muzakir. Ibeng yang rumahnya gak jauh dari rumahku berniat datang tepat waktu, jam 10. Yah sekalian aja aku nebeng. Waktu SMA dulu, ada istilah Waktu Indonesia Bagian Namche, yang maksudnya anak Namche itu punya 'jam'nya sendiri yang akibatnya molor ga tanggung-tanggung. Aku dan Ibeng jelas datang paling awal karena tepat waktu, disusul Kanji jam 11.00, Gakroso dan Kombir yang aku gatau jam berapa mereka datang karena aku lagi belanja bekal, serta Toyo yang datang jam 14.00...hanya dengan pakaian, motor, dan tas slempang isi rokok.
Toyo
Setelah menyiapkan berbagai bekal dan nyewa peralatan, kami berangkat tepat setelah sholat Ashar. Perjalanan menuju Selo yang panjang dan berkelok-kelok seakan tak terasa karena dihibur dengan pemandangan indah yang disajiikan oleh Merapi dan alam di sekitarnya. Kami sempat mampir makan di warung pinggir jalan karena dorongan cairan lambung yang menggerus keyakinan kami untuk makan di basecamp Selo.
Samcong
Perjalanan pun berlanjut. Sebelum basecamp, trek menanjak lurus menghadang kami. Aku yang saat itu berboncengan dengan Gakros di atas motor Ibeng pun mulai was-was karena muncul tanda-tanda engga kuat. Benar saja, beberapa meter sebelum basecamp aku harus melompat dari motor karena tidak kuat menarik beban kita berdua. Haha. Kami pun sampai di basecamp sebelum Maghrib.
Kombir
Apes. Itulah yang dapat aku katakan. Saat itu warga sekitar melihat asap hitam mengepul dari arah Gunung Merapi dan mereka pun berkumpul di sepanjang jalan dekat basecamp untuk mengamati keadaan Merapi. Mereka belum yakin apakah itu awan panas atau apa. Parahnya di saat yang sama ada pendaki yang mengalami kecelakaan di atas sana. Rumornya adalah terjatuh di tempat yang kurang nyaman sehingga mengalami luka-luka. Tapi dia masih bisa jalan kok ,walaupun pelan. Tetap saja kejadian itu sudah cukup membuat suasana mencekam. Meskipun awan tadi dipastikan hasil dari guguran lava, para warga tidak ingin kami mengambil resiko untuk melanjutkan perjalanan. Walhasil, kami pun beristirahat di basecamp hingga waktu yang belum ditentukan.
Saya


Salah satu prosedur keamanan yang wajib kami lakukan sebelum pendakian adalah memberi kabar kepada rekan-rekan kami di basecamp atau di jogja. Meskipun kami tidak mengharap celaka, namun pencegahan selalu lebih baik bukan? Begitu pun saat itu, banyak rekan yang tahu bahwa kami melakukan pendakian ke Gunung Merapi. Ternyata di berbagai berita muncul kabar terkait kondisi Gunung Merapi yang menampakkan aktivitas dapur magmanya.

Kondisi kami saat itu membuat khawatir teman-teman di Jogja. Berhubung saat itu media sosial paling tenar adalah Twitter, sontak saja twit dengan hashtag #PrayFor33 bertebaran di timeline kami. Angka 33 yang menunjukkan angkatan sispala kami, meski tak semuanya anak pecinta alam, menjadi viral di berbagai angkatan.

Ada kakak kelas yang mencoba menghubungi kami via telepon namun gagal. Ada adik kelas yang mengontak basecamp Gunung Merapi namun tak dapat terhubung. Ada pula senior kami yang menyiagakan tim penyelamatan apabila skenario terburuk terjadi. Di saat bersamaan, kami, yang tak tahu kekhawatiran rekan-rekan di Jogja karena keterbatasan sinyal, sedang menikmati cemilan yang dibawa masing-masing dan asik bermain kartu remi.
Rekan-rekan di Jogja sedang panik
Kami yang sampai di basecamp kurang lebih pukul 18.00, telah menghabiskan 4 jam foto-foto di basecamp, ngemil, dan main kartu. Lama kelamaan bosan juga karena Samcong hampir selalu kalah, Toyo hampir selalu menang, dan Gakros hampir selalu tak kelihatan batang hidungnya, entah hilang ke mana. Dirundung kebosanan yang menjemukan, muncul wacana untuk mendaki Gunung Merbabu. Masalahnya tak ada satu pun dari kami yang berpengalaman via jalur Selo, bahkan basecampnya dimana saja kami tak tahu (bahkan itu adalah kali pertama saya tahu bahwa Merbabu bisa dicapai via Selo). Gakros pun mencoba menghubungi rekan-rekannya yang sebagian besar adalah juru kunci gunung ataupun pendaki veteran.

Tengah malam tiba, namun ijin untuk mendaki tak kunjung didapat. Kecewa, pasti. Akhirnya kami memutuskan untuk mendaki Gunung Merbabu keesokan hari meskipun tak ada yang tahu jalur. Sudahlah yang penting kita bersama, hambatan menghadang hadapi penuh kesabaran. Kami pun memutuskan untuk segera tidur.

Unreachable

Unreachable
I intended to make this year much more productive than before. Creating more post was one of the realizations. In fact, I could not be more productive than three years ago, which topped with 77 posts. With this post I only created less than 30 posts and that is only a half of 2013. Still a long way to go, but only 7 days left of this year.

At the end of August 2016, I made a commitment to create a post everyday until the end of the year. However, that commitment is not commitment at all, since definitively commitment means a strong willingness of giving the energy and time to something that someone believes in, or a promise (based on dictionary). It seems that I cannot fulfill that promise this year because my commitment is not strong enough. In my opinion, that "commitment" more or less just an "intention".

Why dont you create 30 or 40 more posts in the reamaining days? Well, I do not have a solid reason. However, I will be satisfied if I could continuously create a post each day. I could make 40 or even 50 posts in a day, but I will not be able to ensure the quality. In terms of writing, I prefer quality over quantity. It is a silly reason, but I already made up my mind and accepted my failure.

It is possibly done, but I was not persistence in pursuing my target. I had time to do so, yet I waste it. My target turn into my next year target. For now, it is out of the question. It is unreachable.

Crash

Crash
Here I am, back again in my lovely blog. It's been a while since I'm gone missing. Well, truthfully, I really wanted to write something. Yet, the browser of mine gone mad. I could not download anything. I could not open several specific pages. And I even could not read my own email.

Malware? I am dumb as a rock when it comes to technology, so I have no idea. Virus? Nah, I did not think so. Since I already scanned the laptop thoroughly with the anti-viruses, I was forced to use another, easy-to-use but unfamiliar, browser for net surfing. The main problem is, I never remember any password of my account except gmail account. Therefore, I will not be able to use any accounts if it goes any longer. Meanwhile, I am in the middle of intensive communication with institutions for important matter. Dang.

Fortunately, it is solved by now.

Simple turn off and on do the trick.

FYI, I rarely shut my laptop down.

Dang, so embarassing.

No Post On October

No Post On October
It was a special month. Every day is a new day of hope, supposedly, since that institution promised will give me the news in this week. The information I had been waiting for a year and a half. The announcement that anticipated by every candidate. Four turned out to be five, and six catch up shortly. They mentioned four to six, did not they?

However, that bright expectation of a new day turned out to be an unavoidable hopelessness. Every morning the anxiety came by and left me in despair, but I survived -clinging to something that called determination. Yes. The determination of waiting.

Waiting is the most useless activity. Fortunately, eighteen months of struggling gave me the ability to learn the art of waiting. Patience - became the key of this new skill. I ignored all my fear and anxiety, focusing on something that made me active. I ought to do something productive, you might say, to changing the focus of my mind. On the other hand, all I did in that special month is doing nothing patiently. I waste the most precious treasure in the world, time. The impact is significant, in a negative way, and forced me to be more anxious and scared. The new me, the more negative version of me, became too scared to doing anything. Too scared to come out and socialized. Too scared to meet anyone. Too scared to write something in this portal.

Dang, I already posted one, though.

Mission unaccomplished.

Laste

Laste
Aku pun duduk termangu, di atas kendaraan kesayangan, menanti sebuah pintu terbuka. Pintu yang selalu membawanya kepada kebahagiaam. Kau adalah alasannya, Kau adalah pembawa kebahagiaan itu, Kau adalah Sang Lentera penuh kasih yang pijarnya selalu menerangi jiwa yang dingin nan kesepian. Terangnya cahaya penuh kehangatan itu hanya dibatasi oleh pintu kayu hitam legam yang penuh kenangan antara Kau dan Aku. Tak peduli siang maupun malam, panas terik atau hujan badai, Aku perhatikan kilau cahayanya tak kunjung padam meskipun telah sekian lama.

Pintu itu terbuka, terlihat paras elok seorang perempuan bercahaya di ambang pintu yang penuh makna tersebut. Aku hanya tersenyum simpul dan berkomentar, "tumben sudah siap."
"Ya, tentu saja. Ini hari yang spesial," balas yang diajak bicara.
"Tepat. Lama sekali kita tak berjumpa."

Kau pun langsung memposisikan diri di singgasana yang tersedia. "Mau ke mana kita?" tanya Aku, pertanyaan klasik yang selalu kesulitan untuk Kau jawab. 
"Tidak tahu, Aku ingin ke mana?"
"Entah, aku pun tak tahu." Sebuah jawaban yang aneh bagi si pembonceng. Sepengetahuan dirinya, si pengendara kendaraan roda dua ini selalu punya tujuan, selalu tahu akan ke mana. 
Hening.
"Jalan saja dulu," akhirnya Kau memerintah, demi memecah kebisuan.
Aku terdiam, namun motornya dijalankan perlahan-lahan.

Berkendara tanpa tujuan seakan telah menjadi ritual bagi Kau dan Aku, yang menjadikan ini sebagai momen pelarian diri dari realita. Menjadikan dunia ini milik berdua saja, plus motor bebek 100cc. Akan tetapi, Aku selalu tahu tempat-tempat yang menarik, rute-rute yang menyenangkan, dan membuat momen itu tidak sekadar menghabiskan waktu tanpa makna. Ritual tersebut adalah satu hal yang pasti dilakukan di akhir pertemuan mereka.

"Maaf..hanya roda dua. Maaf," desis Aku terbata-bata.
"Jangan pernah berkata seperti itu."
Kemudian hening.
"Bolehkah?" ucap yang duduk di belakang sembari mempertemukan kedua telapak tangannya melalui pinggang yang duduk di depannya.
Aku tak menjawab, pertanyaan itu seakan tak membutuhkan jawaban. "Tak ada seorangpun yang bisa menolak permintaan itu," bisik hati kecilnya.

Kau menggosokkan kepalamu ke punggung Aku. Beberapa gosokan ia awali sebelum menempatkan pelipis kanannya di titik yang paling nyaman pada lahan yang bidang itu. Betapa hangat, betapa menenangkan. Aku selalu iri dengan punggungnya yang selalu berkesempatan menikmati tulusnya sentuhan dari belakang. Tetapi apa daya. Saat ini Aku hanya mampu mengerahkan kemampuan seluruh syaraf di tubuh demi menikmati kenyamanan yang ditularkan si perempuan itu untuk sementara waktu.

Aku memperhatikan jari-jemari lentik yang menggelayut di perutnya. Indah nan cantik. Menentramkan, namun kini memilukan. Cincin emas bermata kristal tersemat di jari manis tangan kanan, suatu hal yang tak mungkin Aku jangkau. Hanya perak polos yang mampu Aku berikan untuk dirinya. Hanya saja Sang Perak tak sempat menunjukkan pamornya, karena Si Emas telah lebih dahulu hinggap dengan nyaman sejak minggu kemarin. Aku tersenyum simpul. Sadar bahwa perak kalah tanding, sadar bahwa perjalanan ini akan usai.

"Kamu sudah akan mengantarku pulang?" tanya Kau yang tersadar rute ini menuju kediamannya.
"Belum puaskah engkau bersamaku semenjak matahari terbit hingga petang?"
Kau terdiam, berharap matahari bergulir ke timur agar hari ini takkan pernah berakhir.
"Baiklah, satu putaran lagi," ujar Aku menguatkan dirinya yang sadar bahwa waktu takkan mampu terulang kembali.
Kau tersenyum puas, bahagia permintaannya dikabulkan, walaupun memang selalu demikian.

Hari telah beranjak larut. Aku menghentikan kendaraan sederhana tersebut tepat di depan pintu penuh kenangan yang ia hadapi pagi tadi. Kau pun turun.
"Jadi, Kau akan pindah?" ucap Aku. Ada nada sesal di dalam pernyataan itu.
"Padahal tempat ini penuh kenangan," balas Kau, mengiyakan tanpa jawaban sembari mengulurkan tangan untuk berpamitan seperti biasa, namun ini tak biasa.
"He-em," Aku raih tangan tersebut, dan tanpa sadar terpaku memandanginya, memperhatikan kemilau di jemari lentiknya.
"Eh! Maaf!" pekik Kau seraya menarik lengan dengan tergesa. Telapak itu pun disembunyikan di balik tubuhnya.

Kau berjalan mundur menuju ke pintu itu. Biasanya ia akan mengucap "tunggu aku hingga masuk ke dalam", lalu Aku mengangguk pelan tanpa sedetik pun melepas pandangnya dari Kau.

Kau telah berada di dalam, di tempat yang berbeda dengan Aku. Ia berbalik, memegangi daun pintu dengan tangan bergetar. Perlahan menutup potret masa lalu hubungan mereka berdua. Kau menarik nafas panjang, seakan ingin melepaskan beban yang amat berat. Satu kali. Dua kali. "Aku akan merindukanmu," ia berhasil mengungkapkan isi hati sebelum tangisnya pecah.

Aku duduk memandangi pintu yang tertutup itu. Tak ada jalan baginya untuk masuk. Ia mengangguk perlahan, meneguhkan hatinya. Cahaya yang ada di dalam pun perlahan temaram. Meredup.

Sang Lentera pun akhirnya padam.



Terinspirasi dari "Cinta dan Cahaya Ruang Tamu yang Padam", sebuah kisah nyata yang tak nyata.

161027 Heavy Rain

161027 Heavy Rain
It was a beautiful morning. Sunny but cool enough to repress my anxiety. Yes, THAT anxiety. I just sat in the corner of my room, in the other corner of the room my laptop tried to connect the internet, without any sign of succeeding. I took my phone. Nothing interesting in that thing, but I thought it is better than just sitting without any activity. Then, I turned on the mobile data. Wow, is it true? I cannot verify that news while my wi-fi down.

It was a mysterious afternoon. The sky started to drizzle. Some people might say that rain will only bring misfortune or bad premonition. Others might say, rain is 10 percent water and 90 percent memories. Well, in my opinion, rain is a good sign. Many great things happened to me on a rainy day. The slight rain transformed into a heavy rain. And I could not stop my joyful feeling. The cool rain spatters made me calm. Yeah, I always love this moment.

Is it the God's celebration? I am not sure until this moment. But since many memorable occurrences happened in the rain, I can only give a profound gratitude when it comes.

The Existence of Elevator

The Existence of Elevator
A nobleman's princess pushed the elevator button in a royal hotel, impatiently. She grumbled and muttered while waiting for the lift. 

Eventually, it came. She stormed hastily and shouted at the elevator boy, "Where were you?!"

"I am sorry, miss. But where could someone go when he was inside the elevator all the time?"

Originally taken from Doa Sang Katak 2 (Anthony de Mello SJ)

The Genre that You Do Not Even Remember the Name

The Genre that You Do Not Even Remember the Name
"You'll gonna love this music."
"Music? Did you mean song?"
"No. Music. Literally. I can't stand any of the new songs nowadays."
"Wait. What? Really? What kind of music then?"
"Just listen. Well it's sorta like clubbing music, but it isn't. Frankly, I love any lyricless song recently."
"Well, well, I heard it and I can't love it like you do."
"Woah, woah, yesterday you said you love folk music but you don't like this kind of genre?"
"Yup."
"But both of them are nearly the same, for my ears."
"They're different. Totally. That music and song make me relax and enjoying the flow of time. And yours? Well, I'm not sure what it really is."
"You have to listen to the branch of this genre then, chill one."
"Not now, not now. Another time will do."

Hidden Message Response

Hidden Message Response
Uncertainty could be a flavor of world excitement, but also a tormentor that potentially mess up the feeling and sanity. I sent you those secret codes. However, I have no idea whether you already read it or not. And if you have, what did you do after realizing the secret code's meaning? Well, the major disadvantage of sending a message using covert method is the unknown or irrelevant response. In my opinion, there is should be an agreement of the code type and how to decipher it. Unfortunately, the solution unable to implement for a secret admirer that send the message to his/her crush.

I do not know how to react nor compose the reply to your message if you really read them. Perhaps you better did not read at all. 

If You're Good at Something, ...

If You're Good at Something, ...
"If you are good at something, never do it for free." A notorious quote from the movie that turned an ignorant who did not put any interest in major trend into a movie lover. Movie athlete might be more relevant since this person really fond of the movie marathon.

The question is, do you agree with that quote? Personally, I found this quote is too materialistic and money oriented, isn't it? On the other hand, if we use business perspective, this quotation fit perfectly. Monetizing our most excel skill is easier said than done, yet this quote suggests us to make a master plan for ensuring people to use our products/services and pay for them. Do not ask me how because I can not figure it out too. I only share my own perspective and hopefully in the not-too-distant future I could be paid for it. Who knows?